Sumber: nu.or.id

Purwakarta, LiputanIslam.com– Akademisi Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) KHEZ Muttaqien, Ramlan Maulana menanggapi menguatnya paham radikal (Radikalisme) di Indonesia. Menurutnya, paham radikal dan paham yang menganut kekerasan sangat berbahaya. Oleh karena itu, konsep moderasi beragama harus diterapkan dan diwujudkan.

Hal itu disampaikan Ramlan pada kegiatan Talk Show Kebangsaan  yang diselenggarakan Eksekutif Lembaga Kajian Strategis Kebijakan dan Pembangunan (Elkap) Purwakarta, di Menteng Food Zone Ciseureh Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, pada Sabtu (27/7).

Kelompok radikal dan fundamentalis sengaja memanfaatkan sistem bernegara Indonesia untuk mewujudkan kepentingan mereka. Termasuk juga menciptakan politik identitas yang akhir-akhir ini sangat terasa menguat, yakni pada Pemilu 2019 lalu.

“Misalnya kita sudah saksikan pada rangkaian Pemilu 2019 kemarin, KPU diterpa hoaks, bahwa KPU sebagai tangan panjang dari rezim. KPU setiap daerah juga dikatakan sudah berpihak kepada pemerintah, termasuk KPU saat mengumumkan hasil pleno dikatakan melakukan kecurangan dengan mencuri waktu,” ujarnya.

Baca: Polri dan BNPT Fasilitasi Program Deradikalisasi 32 Terduga Teroris Kalteng

Sementara Ketua Pemuda Muhammadiyah Jawa Barat, Ahmad Ikhsan Faturrahman mengungkapkan, persatuan dan kesatuan telah dilakukan oleh para pendiri bangsa yang kemudian lahirlah sebuah falsafah bangsa yang dijadikan rujukan berbangsa dan bernegara yaitu Pancasila.

“Setelah putusan MK  seharusnya dinamika politik yang menghancurkan persatuan anak bangsa terhenti. Apalagi perdebatan yang disebabkan oleh perbedaan pandangan politik, sudah wajib hilang,” tandasnya. (aw/NU/patron).

 

 

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*