LiputanIslam.com– Berakhirnya masa gencatan senjata lima hari di Suriah utara dibarengi dengan kunjungan Presiden Turki Erdogan ke Rusia dan berbicara dengan Presiden Rusia Vladimir Putin. Hasil dari pertemuan itu, Moskow dan Ankara mengumumkan kesepakatan untuk mengakhiri operasi militer Turki di tanah Suriah. Setelah kesepakatan itu, para pejabat kedua negara telah mengumumkan bahwa perang tidak akan dilanjutkan dan gencatan senjata akan berlanjut dalam beberapa hari mendatang. Pengamat menyatakan bahwa kesepakatan ini menunjukkan kepuasan Turki dengan hasil pembicaraan dengan Rusia.

Sementara itu, di sisi lain, Kurdi dan pemerintah Suriah juga sedang membangun kesepakatan dan komunikasi tekait dengan kehadiran tentara Suriah ke wilayah utara, yang sebelum ini ditinggalkan oleh Amerika. Bagaimanakah perkembangan masa depan Suriah setelah adanya kesepakatan-kesepakatan baru tersebut?

Inisiatif di Tangan Rusia

Salah satu implikasi penting dari perjanjian ini adalah penarikan penuh kekuatan Amerika Serikat dari konstelasi krisis Suriah, serta transformasi Rusia menjadi pemain utama di masa depan Suriah. Faktanya, Turki telah menunjukkan bahwa meskipun Ankara menjalin sejumlah perjanjian sementara dengan Washington, akan tetapi perjanjian akhir selalu dibangun bersama Rusia.

Hal ini tidak lepas dari merosotnya tingkat kepercayaan terhadap Amerika Serikat di mata pihak-pihak yang bertikai. Di mata Kurdi, AS jelas sama sekali tak dapat dipercaya dan dianggap sebagai pengkhianat, karena secara tiba-tiba saja menarik diri dari kawasan Kurdi untuk mempersilakan tentara Turki menggempur kawasan-kawasan yang dihuni suku Kurdi. Turki juga merasa ditipu oleh AS soal penarikan mundur pasukannya dari Suriah itu. Hanya beberapa jam setelah perjanjian AS-Turki, Presiden Trump menyatakan bahwa sebagian pasukan AS akan tetap ditempatkan di sebagian kawasan utara Suriah untuk mengendalikan sumur minyak di Suriah utara serta membantu orang Kurdi.

Dengan kata lain, pecundang geopolitik terbesar dalam kesepakatan Rusia-Turki saat ini adalah Amerika Serikat. Seperti yang diumumkan Menteri Pertahanan Rusia Sergei Shivigo, sudah waktunya bagi Amerika untuk meninggalkan Suriah.

Perjanjian tersebut juga menunjukkan bahwa Kurdi akan memiliki sekutu dan penjamin baru. Faktanya, setelah AS menarik pasukannya sepenuhnya dari Suriah dan sepenuhnya menyerahkan mereka kepada tentara Turki, Rusia sekarang akan menjadi pusat perhatian Kurdi untuk sekutu yang dapat diandalkan dalam menghadapi invasi Turki.

Baca: Erdogan Temui Putin Menjelang Berakhirnya Genjatan Senjata Militer Turki di Suriah

 

Konsesi bagi Suriah

Pemerintah Suriah berulang kali mengkritik operasi militer Turki di utara perbatasannya selama beberapa tahun terakhir serta menyebut Ankara sebagai agresor dan perampok. Meskipun demikian, perjanjian Erdogan dan Putin ini akan memiliki manfaat yang tidak dapat disangkal untuk Damaskus. Di satu sisi, Rusia telah berhasil mendorong Turki sebagai salah satu musuh paling keras Damaskus untuk menerima legitimasi rezim Assad dan menerima dimulainya pembicaraan dengan Damaskus. Ankara dalam beberapa hari terakhir mengisyaratkan pentingnya pembukaan saluran komunikasi Ankara-Damaskus di bidang militer. Para analis percaya, sekaranglah saatnya bagi Ankara untuk kembali ke posisi diplomatik pra krisis, yaitu mengakui pemerintahan Assad sebagai represantasi kedaulatan rakyat Suriah.

Baca: Assad: Turki Agresor dan Perampok

Aaron Stein, Direktur Program Timur Tengah di Institut Philadelphia untuk Penelitian Kebijakan Luar Negeri, dalam sebuah wawancara dengan The Washington Post, mengatakan bahwa Erdogan, yang merupakan salah satu penentang Assad selama perang Suriah, sekarang harus menyiapkan opini publik Turki untuk peristiwa semacam itu (menerima legitimasi Assad).

Masalah melawan kebangkitan ISIS juga menjadi hal positif lain bagi pemerintahan Assad. Satu klausul dalam perjanjian Turki-Rusia itu menyatakan bahwa kedua negara akan mengambil langkah-langkah untuk mencegah penetrasi kelompok-kelompok teroris. Data menunjukkan bahwa sekitar 11.000 tahanan, sebagian besarnya berasal dari unsur-unsur ISIS, saat ini berada di penjara timur laut Suriah. Operasi militer Turki terhadap kawasan tersebut dapat menyebabkan pelarian para tahanan itu, dan ini tentu menjadi problema besar bagi pemerintah Suriah. Di sisi lain, mengingat meluasnya unsur-unsur kelompok takfiri di Provinsi Idlib, perjanjian Turki-Rusia tersebut dapat memotong dukungan Ankara terhadap kelompok teroris di Idlib.  Ini adalah peluang besar dalam rangka membebaskan Idlib dari pendudukan teroris.

“Suriah akan terus memerangi terorisme dan membebaskan tanah Suriah dengan semua cara hukum yang diperlukan,” kata Assad kepada Putin.

Masalah integritas wilayah Suriah juga menjadi pencapaian besar lain dari kesepakatan antara Turki dan Rusia. Meskipun Erdogan dan pejabat Turki lainnya telah berulang kali mengatakan mereka tidak berniat tinggal di Suriah dan menduduki bagian utara negara itu, Suriah selalu curiga dengan tujuan militeristik Turki. Dalam perjanjian baru-baru ini, Turki kembali berjanji akan menghormati integritas teritorial Suriah.

Di sisi lain, di bawah perjanjian baru, Rusia dan pemerintah Suriah bertanggung jawab untuk mengawasi penarikan militan Kurdi dari zona aman, yang mencakup ratusan mil dari Eufrat ke perbatasan Irak, sedalam 20 mil. Ini bermakna bahwa tentara Suriah bisa kembali ke daerah-daerah di mana hal itu tidak mungkin mereka lakukan selama bertahun-tahun karena kehadiran militer AS di kawasan tersebut. (os/alwaght)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*