Mega-Paloh

Mega-Paloh

Jakarta, LiputanIslam.com — Presiden Joko Widodo diminta bersikap negarawan, dan mengabaikan ‘bisikan’ Megawati Soekarnoputri maupun Surya Paloh terkait dengan kasus Komjen Budi Gunawan. Hal ini disampaikan oleh pengamat politik Universitas Paramadina, Hendri Satrio.

Seperti diketahui, Komjen Budi merupakan calon tunggal Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri), namun Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkannya sebagai tersangka.

“Ingat, rakyat pilih Jokowi karena memang dia Jokowi, bukan karena PDIP atau Megawati apalagi Surya Paloh,” kata Hendri, seperti dilansir detik.com, 16 Januari 2014.

Menurut Hendri, Jokowi harus berani mengambil keputusan secara mandiri dengan pertimbangan suara rakyat. Bukan bisikan dari Mega-Paloh ataupun petinggi KIH lainnya.

“Jokowi harus segera mengakhiri polemik ini dan kembali fokus mengurus negara. Ingat harga barang sedang tinggi,” tambahnya lagi.

Bisikan Mega-Paloh memang belakangan dinilai sangat mengganggu pemerintahan Jokowi. Setelah Komjen Budi dijadikan tersangka, Mega-Paloh dan petiggi KIH dikabarkan menggelar rapat, dan hasilnya tetap memutuskan Komjen Budi sebagai Kapolri.

Setelah DPR menyetujui Komjen Budi jadi Kapolri, kini semua pihak menunggu sikap yang akan diambil oleh Jokowi. Apalagi, saat ini desakan dari partai semakin kencang yang menghendaki agar Jokowi segera melantik Komjen Budi.

Di sisi lain, para relawan pendukung Jokowi saat masa kampanye silam, mendesak agar agar Jokowi memenuhi janji-janjinya semasa kampanye, seperti pemberantasan kasus korupsi. Jika Komjen Budi tetap dilantik, relawan menyatakan akan turun ke jalan.

“KPK telah menetapkan Budi Gunawan sebagai tersangka, kami himbau Bapak Presiden menghormati keputusan tersebut sebagai wujud janji Bapak saat kampanye bahwa tidak akan memilih pejabat negara yang bermasalah dengan hukum. Jika Bapak tidak mencabut pencalonan Kapolri, melalui surat ini, kami sebagai relawan Salam 2 Jari menyatakan akan turun ke jalan dan meminta KPK segera menuntaskan kasus pidana di balik rekening gendut. Kami percaya bahwa Bapak Jokowi sebagai presiden pilihan kami akan mendengarkan dengan hati dan tidak semata hanya dengan telinga. Kami gelisah, karena tidak mampu meyakinkan Bapak untuk menarik kembali pencalonan Komjen (Pol) Budi Gunawan. Namun, kami percaya, Bapak masih punya hati untuk mendengarkan suara kami,” demikian surat yang disampaikan relawan Salam Dua Jari.

Akankah Jokowi memilih untuk mendengarkan suara rakyat dan berani menolak bisikan Mega-Paloh?

“Bila Jokowi masih mendengarkan Mega dan Paloh, silahkan tanggalkan jabatan presiden pilihan rakyat dan kembali jadi petugas partai,” sindir Hendri. (ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*