Sumber: palpres.com

Palembang, LiputanIslam.com– Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang kembali menghidupkan dan mengenalkan kembali tradisi Ngidang yang merupakan tradisi masyarakat melayu Palembang kepada berbagai kalangan, khususnya kalangan milenial. Staf Ahli Walikota Palembang Bidang Ekonomi Pendapatan Daerah, Hukum dan HAM, Altur Febriyansyah mengatakan  tradisi Ngidang merupakan warisan budaya leluhur yang harus dilestarikan.

“Tradisi ini memilik makna yang mendalam. Ngidang adalah cara makan bersama-sama dan lesehan jadi butuh kerjasama,” ucapnya usai membuka acara Ngidang di Museum Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II, Palembang, Sumatera Selatan pada Selasa (27/11).

Dalam tradisi Ngidang  terwujud suatu perilaku gotong royong. Mulai dari penyajian dilakukan secara bersama, dan ketika makannya juga bersama-sama. Dalam satu hidangan biasanya terdiri dari delapan orang. “Karena untuk makan kita menyediakan makanan secara gotong royong, ada nilai positif, bisa menjalin komunikasi tanpa memperhatikan status sosial, semuanya rata duduk bersila,” terangnya.

Baca: Pemerintah Optimis Ekonomi RI Tahun Depan Tumbuh 5,3 Persen

“Mohon doa masyarakat pada tahun 2020 nanti acara ngidang ini akan di daftarkan ke Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) dan UNESCO sehingga tidak bisa diklaim oleh orang lain. selain itu juga kita akan mendaftarkan makanan khas asal Palembang Burgo yang kemudian akan kita dihidangkan,” tambah Altur. (aw/bisnis/sriwijayatv).

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*