Sumber: tribunnews.com

Banda Aceh, LiputanIslam.com– Tradisi unik digelar pada malam peringatan Nuzulul Quran di Aceh, yakni tradisi Masak Kuwah Beulangong yaitu kuah kari khas Aceh Besar. Imam Masjid Desa Lamgeulumpang Ulee Kareng Kota Banda Aceh, Tengku Jasman mengatakan bahwa tradisi Masak Kuwah Beulangong ini dilakukan setiap tahun dan sudah berlangsung secara turun-temurun.

“Masak kuwah beulangong setiap bulan puasa untuk memperingati Nuzulul Quran sudah menjadi tradisi secara turun temun sejak dulu di Desa kami,“ ucapnya di Banda Aceh, seperti dilansir kompas.com, pada Minggu (27/5).

Warga secara bergotong royong memasak kuwah beulangong sebanyak 24 kuali secara bersamaan. Kemudian setelah masak kuwah beulangong langsung dibagikan kepada seluruh warga secara merata.

Menurut Jasman, semua biaya dalam tradisi Masak Kuwah Beulangong merupakan sumbangan sukarela warga. Dalam tradisi masak ini setidaknya membutuhkan dua ekor sapi dengan perkiraan biaya sekitar 60 juta.

“Kuwah beulangong itu menggunakan dua ekor daging sapi, kemudian juga ditambah buah nangka dan bumbu. Itu seluruhnya biaya sumbangan dari warga secara sukarela, fakir miskin, anak yatim tidak diminta sumbangan namun tetap kita bagikan secara merata,” katanya.

Baca: Masyarakat Bintan Lestarikan Tradisi Lampu Cangkok

Jasman menjelaskan, dari 24 kuali kuwah beulangong itu 21 diantaranya dibagikan secara merata kepada seluruh warga setelah masak. Sementara tiga kuali kuwah beulangong sisanya khusus disiapkan untuk buka puasa bersama tamu undangan.

“Pada sore hari setelah masak, seluruh warga membawa wadah tempat untuk mengambil kuwah beulangong untuk dibawa pulang ke rumah, sementara tiga kuali disiapkan untuk menu utama acara buka puasa bersama,” ungkapnya. (aw/kompas).

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*