Sumber: republika.co.id

Jakarta, LiputanIslam.com— Kementerian Pertanian (Kementan) mencatat terdapat 12 ribu hektare lahan mengalami gagal panen atau puso dari total 1,5 juta hektare sawah. Angka tersebut bertambah dari jumlah sebelumnya 9.358 hektare pada awal Juli.

Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), masih ada ribuan hektare lahan yang berpotensi puso akibat kekeringan. Hingga saat ini, BNPB mencatat sekitar 20.269 hektare sawah berpotensi puso.

Baca: 5 Kabupaten di NTT Masuk Kategori Darurat Kekeringan

“Menurut catatan yang sampai saat ini masuk ke BNPB, kita lihat ada 20.269 hektare yang potensi puso,” kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Agus Wibowo di Jakarta, Senin (22/7).

Dia menyampaikan, musim kemarau tahun ini telah menyebabkan kekeringan di tujuh provinsi, Provinsi Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Yogyakarta, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur dan Bali.

Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian Kementerian Pertanian Sarwo Edhy menambahkan, dampak kekeringan paling banyak terjadi di Pulau Jawa.

“Paling banyak di Pulau Jawa. Purwakarta salah satu daerah yang juga terdampak,” ujar Edhy, Rabu (24/7).

Edhy menyebutkan, di Jawa Barat, Kabupaten Indramayu menjadi daerah yang paling terdampak kekeringan dan puso terluas.

“Yang paling terdampak kekeringan dan puso terluas adalah Kabupaten Indramayu,” ucapnya.

Dia menilai, meskipun terjadi kekeringan, tapi hal tersebut tidak akan terlalu mengganggu produksi padi nasional karena luas lahan kekeringan dan yang mengalami puso masih di bawah 10 persen. (sh/medcom/republika)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*