Ilustrasi Tanker Minyak. Sumber: BBC

Tehran, LiputanIslam. Com—Beberapa hari setelah kapal tanker milik Iran disita oleh angkatan laut kerajaan Inggris yang bermarkas di Selat Gibraltar, Menhan Iran,  Amir Hatami,  berkomentar bahwa tindakan itu adalah pembajakan.

Baginya,  sikap pemerintah Inggris merupakan ancaman dan tidak bisa dibenarkan.

Dalam pidatonya di televisi yang dikelola pemerintah pada Senin (8/7), Hatami memperingatkan bahwa Iran tidak akan tahan dengan dengan apa yang ia sebut sebagai “perampokan laut”.

“Baru-baru ini, pemerintah Inggris, dengan sangat provokatif, menyita sebuah kapal tanker minyak yang dioperasikan Iran di lepas pantai Gibraltar, yang bertentangan dengan peraturan internasional dan komitmen para penandatangan Eropa terhadap perjanjian nuklir (2015 Iran)”, ucap Hatami .

Baca: Rusia Kecam Penahanan Kapal Tanker Minyak oleh Inggris

Dalam perkembangan lain, Kementerian Luar Negeri Iran mengatakan pada hari Senin bahwa kapal tanker itu tidak dalam perjalanan ke Suriah dan bahwa tidak ada pelabuhan Suriah yang bisa menampung kapal itu. Kementerian berjanji untuk mengambil serentetan tindakan politik, diplomatik dan hukum sehubungan dengan perebutan kapal tanker oleh Inggris.

Pernyataan serupa juga disampaikan oleh Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, pada hari Minggu. Ia menolak tudingan pemerintah Inggris dan mengatakan kapal itu tidak sedang menuju Suriah.

Menjelaskan bahwa pelabuhan Suriah yang disebutkan oleh Inggris sebagai tujuan kapal tanker tidak akan dapat menampung kapal itu. Di saat yang sama, Araqchi tidak menyebutkan kemana tujuan kapal tersebut. Dia juga menekankan bahwa tidak ada yang memberi Inggris hak untuk merebut kapal tanker itu di perairan internasional, dan dengan melakukan itu, Inggris bisa dianggap sebagai bajak laut.

Seorang komandan senior Pengawal Revolusi Iran sebelumnya memperingatkan bahwa IRGC dapat merebut sebuah kapal tanker minyak Inggris jika sebuah kapal Iran yang ditahan di Gibraltar tidak segera dibebaskan.

Baca: Arab Saudi Sandera Tanker Minyak Iran

Pernyataan tersebut mengikuti perkembangan pada 4 Juni, ketika pelabuhan dan lembaga penegak hukum wilayah luar negeri Inggris di Gibraltar, dibantu oleh Marinir Kerajaan, menangkap kapal supertanker Iran “Grace 1” , mengklaim bahwa kapal itu mentransfer minyak mentah ke Suriah dari Iran dan melanggar Sanksi UE.

Kementerian Luar Negeri Iran mengutuk penyitaan kapal tanker itu dan menyebutnya sebagai pembajakan.

Tak lama setelah itu, Pemerintah Iran memanggil duta besar  Inggris dan menyerahkan  dokumen yang membuktikan bahwa kapal tanker itu sedang menuju ke tujuan yang diizinkan.

Penyitaan juga telah dikecam oleh Moskow, menggarisbawahi bahwa itu bertentangan dengan kepatuhan para penandatangan UE terhadap kesepakatan nuklir Iran 2015 .

Kantor Perdana Menteri Inggris, Theresa May, pada gilirannya, memuji tindakan AL Inggris, menambahkan bahwa penyitaan berisi “pesan yang jelas” bahwa London tidak akan mentolerir pelanggaran sanksi Uni Eropa terhadap Suriah. Penasihat Keamanan Nasional AS, John Bolton, menyebut kabar penyitaan itu sebagai “berita bagus”, dengan mengatakan bahwa “Amerika dan sekutu kita akan terus mencegah rezim di Teheran dan Damaskus mengambil untung dari perdagangan minyak ilegal ini”.

Mahkamah Agung Gibraltar, sementara itu, memperpanjang penahanan kapal tanker Iran selama dua minggu, mengacu pada sanksi Uni Eropa terhadap Suriah.(fd/memo)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*