Tehran,LiputanIslam.com—Seorang analis berpendapat bahwa internal pemerintahan Amerika berselisih paham tentang bagaimana menyikapi Iran pasca tertembak jatuhnya pesawat nirawak AS oleh Pasukan Garda Revolusi Islam (IRGC) beberapa waktu lalu.

“Ada kesenjangan yang jelas di dalam internal administrasi Trump, sebagian pihak mencoba untuk memanipulasi fungsi administrasi AS dan berusaha mendorongnya ke gerbang perang dengan Iran,” ucap Rodney kepada Press TV pada Minggu kemarin (23/6).

Analis yang berbasis di Arizona itu berpendapat bahwa Presiden AS, Donald Trump, mengetahui hal ini dan memilih mundur karena dia tahu basis politiknya, para pendukung yang memilihnya sama sekali tidak memiliki selera dan benar-benar menentang setiap perang di Timur Tengah.

Baca: Wamenlu Iran, Tak Ada Alasan untuk Mempertahankan JCPOA

Ia mengatakan, jika Trump memaksakan diri untuk perang melawan Iran, maka kemungkinan besar dukungan politiknya akan menurun pada pemilu 2020 tahun depan.

Pada Sabtu (22/6), Trump mengancam akan memberlakukan sanksi baru pada Teheran untuk “membuat Iran kembali hebat.”

“Amerika Serikat tidak bisa membuat Iran kembali hebat. Sebab, Iran telah menjadi negara besar selama berabad-abad sebelum Amerika Serikat diciptakan, ”katanya. “Iran telah cukup hebat bisa melawan sanksi AS.”

Teheran berkali-kali menegaskan bahwa mereka tidak mencari perang dengan AS, namun siap membela kepentingannya di kawasan itu. (fd/Presstv)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*