IDF 3

Hizbullah Menghancurkan Kendaraan Israel

LiputanIslam.com — Sebenarnya, tidak ada yang lebih menyenangkan dibandingkan hidup dalam kedamaian. Kita bisa makan, minum, tidur, bekerja, dan melakukan aktivitas lainnya tanpa dihantui rasa takut. Sebuah negara, memiliki beragam fungsi, salah satunya adalah wajib melindungi unsur negara (rakyat, wilayah, dan pemerintahan) dari segala ancaman, hambatan, dan gangguan, serta tantangan lain yang berasal dari internal atau eksternal.

Jika di satu sisi kita melihat Suriah yang berjuang habis-habisan memerangi teroris yang menghancurkan negaranya, maka di sisi lain, kita akan melihat Israel, yang sengaja bermain api dengan menyerang pasukan perlawanan Hizbullah di Dataran Tinggi Golan, hingga enam tentara Hizbullah dan seorang Jenderal Iran gugur.

Ron Ben Yishai, seorang jurnalis senior, mantan wartawan perang asal Israel. Dalam tulisannya di media Israel Ynetnews.com, 29 Januari 2015, telah mengungkapkan kekhawatirannya jika terjadi perang besar lagi antara Hizbullah dan Iran. Alasannya sangat rasional, salah satunya adalah keamanan rakyat Israel.

“Seperti yang sering terjadi di wilayah kami, misalnya dalam Operation Protective Edge  dan Perang Lebanon Kedua, hasilnya hampir selalu lebih buruk dari yang diharapkan. Hal ini terjadi karena salah perhitungan. Poros Iran-Hizbullah-Suriah mencoba untuk membalas kematian rakyatnya dengan menciptakan ketegangan tanpa henti. Mereka menembakkan roket di perbatasan, yang menyebabkan Israel harus berada dalam kondisi siaga penuh. Hal seperti ini merugikan Israel secara moral dan ekonomi,” lanjutnya.

Selain biaya untuk siaga militer, di sisi lain ketegangan ini juga menelan biaya non-militer. Rakyat Israel akan dihantui kecemasan, yang pada akhirnya, tidak memungkinkan bagi mereka untuk melakukan aktivitas sehari-hari dengan normal.

Hizbullah melancarkan operasi Shebaa Farms, yang menewaskan dan melukai sejumlah tentara Israel. Serangan di Quneitra telah dibalas. Kini skor Israel-Hizbullah adalah 1:1. Impas.

Hanya saja, Israel dihantui rasa takut dan cemas.

***

Berapa tentara Israel yang tewas dalam operasi Shebaa Farms? Seluruh media Israel kompak memberitakan, bahwa serangan dahsyat itu ‘hanya’ menewaskan dua orang, dan melukai tujuh orang lainnya. Namun media-media Timur Tengah lainnya, memberikan informasi yang beragam. Ada yang menyebut 4, ada yang menyebut 15, ada yang menyebut 17.

Mari berhitung.

Serangan Hizbullah tersebut telah merusakkan 9 kendaraan yang digunakan Israel saat konvoy. Dalam gambar-gambar yang dirilis media, hampir semua kendaraan tersebut berada dalam kondisi hancur, terbakar dan rusak berat. Wajarkah jika tentara yang tewas hanya 2 orang?

Klaim Israel ini, tak ayal dijadikan sebagai bahan olok-olok di media sosial. Netizen bertanya, “Apa nama negara, yang, sembilan kendaraan tempurnya hanya dikendarai oleh dua tentara?

Israel, yang sering terlibat bentrokan dengan front perlawanan baik yang berbasis di Palestina atau Lebanon, acapkali memberikan keterangan yang meragukan terkait jumlah tentaranya yang tewas. Misalnya dalam invansi militer Operation Protective Edge pada pertengahan tahun 2014 lalu. Hamas menyatakan tentara Israel yang tewas melebihi 90 orang, sedangkan Israel mengakui, hanya menewaskan 53 tentara.

Mungkin bagi Israel, kematian adalah kekalahan yang memalukan, sehingga harus ditutupi serapat mungkin untuk tetap menjaga wibawa sebagai negara yang mengklaim diri unggul di bidang militer. Namun bagi Hizbullah ataupun Hamas, kematian dalam membela yang haq adalah cita-cita tertinggi mereka.

***

Hizbullah, melancarkan perang terhadap Israel tidak hanya dengan senjata, tetapi dengan menyerang sisi psikologis Israel melalui pernyataan Sekretaris Jenderal Hizbullah Sayyid Hassan Nasrallah. Israel tidak akan bisa mengabaikan setiap ucapan yang keluar dari Nasrallah, karena apa yang dia katakan akan segera dibuktikan.

“Jangan menguji kami,” tegas Sekretaris Jenderal Hizbullah Hassan Nasrallah kepada Israel dalam pidato yang disiarkan televisi Jumat, 30 Januari 2015.

“Israel tidak bisa membunuh orang-orang kami, lalu kemudian tidur dengan tenang. Tentara mereka tidak bisa berjalan naik turun di perbatasan seolah-olah mereka hanya membunuh nyamuk…”

Nasrallah menegaskan, bahwa Israel tetap harus membayar mahal atas semua kejahatan yang dilakukan. Hizbullah telah bersiap untuk menghadapi perang habis-habisan di kesempatan berikutnya.

“Kami tidak ingin perang, tapi kami tidak takut akan perang. Saya pikir serangan Shebaa adalah pesan yang jelas, Israel telah dipermalukan pada hari Rabu.”

Enam anggota Hizbullah dan seorang Jenderal Iran, diserang Israel di Quneitra, Dataran Tinggi Golan. Bukankah wilayah itu dikontrol oleh teroris Jabhat al-Nusra sejak September 2014?

Surat kabar Al Watan, yang mengutip media Israel, Haaretz, melaporkan, sekalipun kelompok teroris al-Nusra melakukan aktivitas-aktivitasnya di sekitar Dataran Tinggi Golan, namun kelompok ini tidak akan menimbulkan bahaya bagi Israel dan militernya.

Apakah ini tidak mengherankan? Di saat dunia internasional merasakan ketakutan atas aksi barbar teroris yang tengah beroperasi di Suriah, tidak demikian halnya dengan Israel. Bahkan sejak awal tahun sudah santer diberitakan bahwa Israel bahkan menyediakan rumah sakit bagi kawanan teroris ini. Beredar luas foto Benyamin Netanyahu, Perdana Menteri Israel, yang menjabat erat salah satu pemberontak yang terluka.

“Israel tidak khawatir dengan keberadaan ribuan militan bersenjata dari kelompok al-Nusra yang berada di kawasan Golan. Tapi, Zionis takut pada enam pejuang Hizbullah dan Iran yang menggunakan kendaraan pribadi…”

Hal ini telah membuat keterkaitan antara Israel dengan kelompok teroris di Suriah semakin terang benderang. Baik Israel, ataupun al-Nusra, memiliki musuh yang sama yaitu Hizbullah. Mereka, adalah satu kesatuan yang saling melindungi kepentingan masing-masing.

***

Ketika situasi semakin tegang yang setiap saat bisa terjadi perang besar, ternyata Israel telah mengibarkan bendera putih. Melalui kanal resminya, Israel meminta kepada Iran agar tidak memperpanjang kasus Quneitra. Artinya, Israel meminta agar Hizbullah dan Iran sama-sama menahan diri agar untuk mencegah perang yang lebih besar.

Dari perspektif Iran, sikap Israel ini adalah gambaran ketakutan yang nyata. Israel, telah mengakui kekalahannya dan tidak ingin benar-benar berperang untuk hasil yang akan semakin mempermalukan pihaknya.

Haruskah Iran-Hizbullah bernegosiasi dengan Israel dan melakukan gencatan senjata? (ba)

Bersambung ke bagian kedua

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL