Sumber: Presstv

Tehran,LiputanIslam.com—Komandan Corps Garda Revolusi Islam (IRGC), Mayor Jenderal Hussein Salami, mengatakan bahwa Amerika dan sekutu-sekutunya terkejut atas keputusan Iran untuk mencabut sebagian komitmennya yang tertuang dalam perjanjian nuklir (JCPOA). Padahal dengan segenap tekanan yang diberikan, Amerika berharap agar Iran menyerah dan patuh kepada tuntutan-tuntutan yang dibebankan.

Saat berbicara di depan staf dan para komandan IRGC di Tehran pada Sabtu kemarin (18/5), Salami menjelaskan bahwa Amerika dan sekutunya tak pernah berpikir Iran akan memberikan perlawanan kepada mereka.

Baca: Gerakan Non-Blok Nyatakan Dukungannya Kepada Perjanjian Nuklir Iran

“Mereka pikir Iran tak akan bereaksi, tak peduli berapa banyak tekanan yang mereka berikan,” ucapnya. “Tapi keputusan Republik Islam terbaru telah membuat hipotesis mereka tentang Iran hancur.” Tambahnya.

Komentar Salami disampaikan menyusul pengumuman dari pemerintah Iran yang mengindikasikan bahwa negara itu akan menghentikan ekspor uranium dan air beratnya.

Pemerintah Iran berpendapat bahwa pihak lain yang tergabung dalam JCPOA telah gagal melindungi perjanjian tersebut dari Sanksi negative yang diberikan oleh Amerika. Padahal Iran telah memberikan waktu dua bulan bagi anggota JCPOA lainnya untuk membenahi beberapa poin dalam perjanjian itu.

Di sisi lain, Salami mengungkap bahwa Iran dan Amerika tengah terjebak dalam perang intelijen yang cukup serius.

“Hari ini, kita berada pada situasi perang intelijen dengan Amerika dan musuh-musuh yang menentang IRGC.” Jelas Salami. Situasi ini, ia menambahkan, adalah gabungan dari perang psikologis, operasi siber, provokasi militer, diplomasi public, dan taktik intimidasi.(fd/Presstv)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*