Sumber: tribunnews.com

Jakarta, LiputanIslam.com— Industri makanan dan minuman (mamin) meminta pemerintah untuk menambah kuota izin kuota impor garam sebanyak 250 ribu ton. Sebab, stok garam impor industri mamin sudah menipis.

Setiap tahunnya, industri mamin membutuhkan 550 ribu garam impor. Akan tetapi, pada tahun ini kuota izin impor garam hanya sebanyak 300 ribu ton. Industri sudah merasa kesulitan karena stok garam sudah menipis. Bahkan, sebagian pabrik pengolahan garam mulai berhenti berproduksi.

Baca: Harga Garam di Tingkat Petambak Anjlok hingga Rp 250 per Kg

Menanggapi hal ini, Direktur Jenderal Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Ahmad Sigit Dwiwahjono mengatakan, pihaknya masih membahas permintaan tersebut dengan bersama kementerian dan lembaga terkait.

“Belum (diputuskan). Kita masih bahas,” kata Sigit akhir pekan ini.

Dia menyebutkan, pembahasan kuota impor tersebut telah sampai di level Kementerian Koordinator Perekonomian.

Dia menuturkan, pemerintah masih mempertimbangkan penambahan izin kuota impor karena para petambak tengah memasuki musim panen.

Pada tahun ini, pemerintah memberikan alokasi impor garam kepada 55 perusahaan industri sebanyak 2,7 juta ton. Dari total alokasi itu, sekitar 1,8 juta digunakan oleh industri chlor alkali plant (CAP) sedangkan sisanya untuk industri mamin, farmasi, kosmetik, serta pengeboran minyak.

Jumlah 2,7 juta ton masih kurang dari total kebutuhan tahunan garam terhadap industri sebanyak 3,7 juta ton. Kekurangan tersebut ditutupi oleh garam lokal sebanyak 1,1 juta ton terutama untuk industri makanan dan minuman.

Akan tetapi, tidak semua pabrikan menerima garam lokal lantaran masalah harga dan kualitas. (sh/republika/kabarbisnis)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*