Sumber: tribunnews.com

Jakarta, LiputanIslam.com— Asosiasi Industri Pengguna Garam Indonesia (AIPGI) mendesak pemerintah untuk segera merealisasikan impor garam karena stok garam industri sudah kritis.

Sekretaris Umum AIPGI Cucu Sutara menyebutkan, saat ini persediaan garam tinggal 77 ribu ton dan diperkirakan habis pada September mendatang. Stok garam yang menipis ini membuat pelaku industri kesulitan beroperasi. Bahkan, sebagian perusahaan terpaksa menghentikan kegiatan produksi.

Baca: Industri Minta Tambahan Kuota Impor Garam, Kemenperin: Kami Masih Bahas

“Menurut kami kebutuhan sudah sangat mendesak, jadi kami minta sisa kuota impor yang sudah disediakan kepada kami untuk dibuka secepatnya. Industri sudah kehabisan bahan baku,” kata Cucu, Selasa (20/8).

Cucu menyampaikan, pada tahun ini kuota garam yang diberikan pemerintah sebesar 2,7 ton dan realisasnya baru mencapai 1,54 juta ton atau 57,03 persen hingga semester I lalu. Oleh karena itu, masih ada sisa kuota impor sebesar 1,2 juta ton.

Untuk memenuhi kebutuhan garam, pelaku industri masih belum bisa menggunakan garam lokal karena kualitas garam lokal masih belum memadai, seperti kadar air masih di atas 1 persen dan kadar garam (NaCl) masih di bawah 97,5 persen.

Oleh karena itu, dia meminta pemerintah untuk segera mengeluarkan surat perizinan impor garam. Sebab, industri sudah ketar-ketir menghadapi pasokan garam yang menipis.

“Jadi impor garam itu sebuah keniscayaan, jadi kami mohon percepat realisasi karena ini berkaitan dengan kebutuhan bahan dasar dan bahan baku dari industri. Asosiasi makanan dan minuman pun sudah ketar-ketir menghadapi pasokan garam yang menipis ini,” ujarnya. (sh/republika/cnnindonesia).

 

 

 

 

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*