Sumber: kompas.com

Pangkep, LiputanIslam.com— Puluhan petani tambak garam di kelurahan Pudata Baji, Kecamatan Labbakkang, Pangkep, Sulawesi Selatan, berhenti memproduksi garam karena harga jual garam di tingkat petani anjlok.

Harga jual garam saat ini tidak sebanding dengan biaya produksi yang dikeluarkan. Dalam kondisi normal, satu karung garam yang beratnya mencapai 60 kilogram dijual dengan harga Rp 75 ribu. Akan tetapi saat ini hanya dijual dengan harga Rp 50 ribu.

Baca: Pemerintah Diminta Perbaiki Tata Kelola Garam

Puluhan hektare lahan pun dibiarkan terbengkalai, padahal, saat musim kemarau inilah, produksi garam biasanya melimpah ruah. Banyak dari petani garam beralih profesi menjadi nelayan.

Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Pangkep, Andi Farida mengakui anjloknya harga garam di tingkat petani. Menurutnya, hal ini terjadi karena pemerintah terus melakukan impor garam, sehingga stok dalam negeri melimpah dan menurunkan harga garam petani.

“Selain karena secara nasional, Pemerintah terus melakukan impor garam, juga masih perlu perbaikan kualitas. Kami tetap mendorong karena pada saat musim kemarau, tidak bisa juga melakukan budidaya komoditi lain terutama yang betul-betul adalah areal garam,” ujarnya.

Terkait hal ini, Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP), Susi Pudjiastuti mengatakan, importir jangan terlalu serakah menyelewengkan logistik pemasaran garam di tingkat konsumen atau pasar.

“Ada importir nakal yaitu pengusaha-pengusaha yang menyebabkan garam buat industri masuk ke pasar. Akibatnya, garam petani tidak terserap ke pasar,” kata Menteri Susi, Selasa, (9/7).

Dia menuturkan, anjloknya harga garam petani oleh terlalu banyaknya impor garam yang dilakukan. Kondisi ini menjadi lebih parah karena ada pengusaha yang memanfaatkan kesempatan ini. Mereka memasukan garam impor industri ke tingkat konsumen di pasar.

“Pengusaha ini kalau butuh buat (garam) industri ya silahkan, tapi mbok ya jangan dijual ke pasar. Karena faktanya ini kelihatan. Kan kasian petani, mereka ini nggak nguasai logistik pemasaran,” kata dia. (sh/detik/liputan6)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*