Sumber: muslimobsession.com

Kota Pekalongan, LiputanIslam.com– Rais ‘Aam Jam’iyah Ahlit Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyah (Jatman), Habib Luthfi bin Yahya menjelaskan peranan makrifat dalam takaran minimal (awam). Menurutnya, bilamana makrifat itu semakin tambah, kita akan mengetahui tipu dayanya nafsu. Akan tetapi, apabila makrifat itu melentur kita akan mudah terombang ambing nafsu.

Hal itu disampaikan Habib Luthfi dalam Majelis Dzikir dan Ta’lim rutinan Kliwonan di Kanzus Sholawat, Kota Pekalongan, seperti dilansir NU Online pada Senin (4/11).

“Contoh kecilnya, bisa kita rasakan ketika selesai makan biasanya seseorang akan mengucapkan hamdalah. Namun itu belum cukup. Sebab, sebagian besar manusia yang mengucap hamdalah itu karena merasa sudah kenyang,” katanya.

“Dari kenyang itu kira-kira nembus atau tidak kepada yang menciptakan kenyang? Sehingga di dalam makan kita itu banyak membawa kita kepada ibadah dan ingat kepada Allah. Itulah makrifat,” sambungnya.

Baca: Habib Umar: Tanggungjawab Ulama Menjaga Umat

Habib Luthfi mengatakan, ukuran sederhananya yakni dengan sesuap nasi kita akan bertambah syukur. Tetapi tantangannya syukur adalah mampukah kita tambah taat kepada yang menciptakan nasi? “Dan seterusnya. Itu tinggal bagaimana kita memaknai dan mengarahkan syukur itu supaya lebih taat beribadah kepada Allah,” tambahnya. (aw/NU).

 

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*