faisal basriJakarta, LiputanIslam.com–Ketua Tim Reformasi Tata Kelola Minyak dan Gas, Faisal Basri, mengaku sempat dibohongi Pertamina. Menurutnya, Pertamina telah menutup-nutupi proses bisnis anak usahanya, PT Pertamina Energy Trading Ltd (Petral).

Pertamina, kata Faisal, menyebut proses pembelian minyak mentah di Petral langsung dilakukan dengan national oil company, alias perusahaan atau produsen migas asing, tanpa perantara atau broker.  Faktanya, Faisal menemukan bahwa Petral juga membeli minyak yang telah diolah untuk dibawa ke Indonesia dari perusahaan trading, atau broker.

“Petral beli juga lewat Hin Leong Trading Ltd, lalu Kernel Oil yang juga sempat kena kasus. Sebetulnya Hin Leong itu kredibel. Cuma yang kita benci, kalau bohong. Jadi tolong kasih statement dan penjelasan yang jujur,” kata Faisal seperti dikutip Detikcom (4/12/2014).

Faisal Minta Pertamina Buka Data

Sebelumnya, Faisal pernah meminta PT Pertamina (Persero) membuka jumlah BBM yang diimpor, serta biaya produksi BBM yang dikeluarkan Pertamina.

“Saya menuntut ke Pak Menteri untuk dibuka ke publik. Dibuka semua ini terkait dengan ongkosnya. Harga premium sudah Rp 8.500, pertamax Rp 9 950, jadi Rp 9.500 sudah untung. Yang namanya Rp 8.500 itu premium yang kita produksi Ron 88 tapi nggak cukup di-blending Ron 92,” kata Faisal seperti diberitakan Detikcom (24/11/2014).

Bila semua data ini didapatkan, Faisal mengatakan, pihaknya bisa melakukan pembandingan dengan biaya di negara lain. Sehingga di masyarakat tidak terjadi perdebatan soal harga BBM yang ditetapkan oleh Pertamina. “Pemerintah harus minta Pertamina untuk buka,” ujar Faisal.

Selain itu, pasca kenaikan harga BBM subsidi, Faisal juga ingin Pertamina membuka secara transparan berapa persisnya konsumsi pertamax yang naik. Karena ini terkait dengan jumlah bensin pertamax yang diimpor oleh Pertamina. (baca: Faisal Basri Menyerah Soal Petral?)

Data Tidak Punya, Tapi Dukung Kenaikan BBM?

Meskipun ternyata tidak memiliki data lengkap hitungan harga BBM Faisal tetap mendukung kenaikan harga BBM yang dilakukan Presiden Joko Widodo.

“Migas ini kan sesuatu yang tidak terbarukan. Jadi kalau generasi sekarang mengambil banyak, apalagi dijual dengan harga yang murah, anak-cucu kita hanya kebagian minyak sangat sedikit. Oke kita ambil banyak minyaknya, tapi harus dimanfaatkan sumber daya alam ini untuk mempermudah generasi mendatang untuk mendapatkan migas,” papar Faisal seperti dikutip Detik.com (18/11).

Ia mencontohkan, cadangan minyak nasional saat ini hanya tersisa 3,6 miliar barel. Dengan produksi Januari-September rata-rata 792.000 barel per hari, maka diperkirakan cadangan minyak nasional akan habis 13 tahun lagi.

“Jadi anak-cucu kita 13 tahun lagi sudah nggak punya minyak. Mereka harus beli minyak dengan harga internasional, yang kita nggak tahu lagi berapa harganya. Kan nggak adil,” kata Faisal.

Faisal juga mengkritik aksi demo mahasiswa yang memprotes kenaikan BBM.

“Mahasiswa itu demo mengutamakan kepentingannya sendiri yang ke kampus naik mobil, itu mereka yang paling menderita, yang efeknya besar karena uang jajannya akan berkurang, jadi mereka berjuang untuk diri mereka sendiri, itu yang membuat rakyat marah,” ungkapnya. (fa)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL