jk-disumpahMojokerto, LiputanIslam.com — Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) mengungkapkan bahwa pemerintah tetap melakukan impor gula dari negara lain. Hal ini disampaikannya saat melakukan kunjungan ke pabrik gula Gempolkerep, Gedeg, Mojokerto, Jawa Timur. JK mengatakan, impor gula saat ini masih dilakukan dan belum bisa dihentikan.

“Hal itu karena produksi gula nasional hanya 2,5 juta ton per tahun dan belum cukup untuk memenuhi kebutuhan gula nasional yang mencapai 4,5 juta ton per tahun,” ujar JK, Sabtu 6 Desember 2014, seperti dilansir vivanews.com.

JK juga mengatakan, kedepannya pemerintah memiliki target untuk menekan impor gula dengan membangun 10 pabrik gula baru dan meningkatkan rendemen tebu petani.

Sedangkan sebelumnya, petani tebu dan garam menuntut Presiden Joko Widodo menghentikan impor gula dan garam. Menurut mereka, gula dan garam impor mengancam keberlangsungan hidup petani.

“Kenapa harus impor? Padahal banyak gula yang menumpuk di pabrik,” kata Ketua Paguyuban Petani Pelangi, Anton Sudibyo, yang berprofesi sebagai petani gula. Saat itu, Anton dan sekitar sepuluh petani tebu dan garam menyampaikan keluhan tersebut di kantor Tempo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis, 20 November 2014.

Anton mengeluhkan harga gula tebu yang kini jatuh dari Rp 570 ribu menjadi hanya Rp 410-420 ribu per ton. Adapun pengusaha pabrik gula dan makelar lebih tertarik menjual gula impor karena mendapatkan komisi Rp 1.000 per kilogram gula yang terjual.

Sistem impor yang menekan produk lokal terus-terusan ini dikhawatirkan akan membuat target swasembada gula dan garam pada 2017 mendatang menjadi sekadar wacana. Para petani berharap Menteri Perdagangan Rachmat Gobel dan Presiden Jokowi menghentikan impor gula dan garam, kemudian mengevaluasi cara untuk memajukan produk lokal.

Sekedar informasi, saat masa kerja Tim Transisi, puluhan petani tebu asal Blora, Jawa Tengah telah mengeluhkan kebijakan pemerintah yang doyan impor. Kementerian Perdagangan saat itu menyatakan realisasi impor gula mentah hingga Agustus 2014 mencapai 2,053 juta ton.

“SBY membuka keran impor 3,5 juta ton gula pertahun, sehingga harga gula jatuh dan gula dari petani tidak laku,” kata Butet Kartaredjasa, seniman yang turut hadir menemani para petani menyambangi Tim Transisi.

Ketua Asosiasi Petani Tebu Blora, Agus Sudibyo juga mengeluhkan pemerintah kurang peka dengan kondisi petani tebu.
“Setiap kami akan panen, pasti akan terjadi impor besar-besaran. Sehingga kami kesulitan untuk mengembalikan modal,” keluhnya, seperti dilansir tribunnews.com, 16 September 2014. (Baca: Pemerintah Rajin Impor, Petani Tebu Gigit Jari)

Mereka berharap pada Jokowi, yang sebentar lagi akan menjadi presiden untuk lebih peduli pada nasib petani. Caranya, dengan mengurangi impor pangan yang merugikan petani.

Dan Presiden Jokowi sendiri telah menemui ribuan petani tebu pada7 Oktober 2014. Salah satu keluhan yang disampaikan langsung oleh petani adalah kebijakan impor gula yang merugikan. Jokowi menjanjikan, bila impor memang perlu dihentikan, ia akan menghentikannya. (Baca: Jokowi Janji Hentikan Impor Gula)

Jadi, bagaimanakah nasib petani tebu selanjutnya jika pemerintah – seperti pernyataan JK diatas—tetap meneruskan impor gula? (ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL