Foto: Middle East Monitor

Foto: Middle East Monitor

GazaCity, LiputanIslam.com — Sekitar 9,600 siswa di Jalur Gaza tidak bisa mengikuti tahun pelajaran baru, lantaran tiga buah sekolah digunakan untuk menampung para pengungsi. Hal itu disampaikan oleh PBB, sebagaimana yang dilansir Middle East Monitor, 14 September 2014.

Bagaimana tidak, operasi militer dengan sandi Operation Protective Edge oleh Zionis Israel, telah menghancurkan rumah-rumah penduduk, yang memaksa mereka berlindung ke sokolah-sekolah. Kendati gencatan senjata antara Israel-Hamas sudah disepakati, para pengungsi menolak untuk meninggalkan sekolah tersebut.

Juru bicara UNRWA Adnan Abu Hasna mengatakan bahwa tiga sekolah yang terletak di kota Jalur Gaza , di sebelah utara Beit Hanoun, seharusnya akan memulai tahun ajaran baru pada hari Minggu, 14 September 2014, sebagaimana keputusan Kementrian Pendidikan Palestina.

Israel melakukan invansi ke Jalur Gaza, untuk membalas Hamas yang dituduh melakukan penculikan dan pembunuhan tiga remaja Israel di Tepi Barat. Hanya saja, Hamas menolak keras tudingan tersebut. (Baca: Siapa Penculik Tiga Remaja Israel?)

Lalu kelompok militan yang menamakan dirinya “Ansar al-Daulah al-Islamiyyah fi Bait al-Maqdis” menyatakan bertanggungjawab atas penculikan dan pembunuhan tiga pemuda Yahudi di al-Khalil. Kelompok ini, diduga memiliki keterkaitan dengan teroris transnasional Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).

Perang  50 hari Hamas-Israel telah menewaskan 2.156 warga Gaza, dan lebih dari 11.000 orang menderita luka-luka. (ph)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL