Sumber: harnas.co

Jakarta, LiputanIslam.com— Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan industri manufaktur besar dan sedang mengalami perlambatan sejak dua tahun terkahir.

Berdasarkan data BPS, pertumbuhan manufaktur pada kuartal III 2019 hanya 4,35 persen. Angka tersebut turun dibandingkan periode yang sama dua tahun sebelumnya, yakni masing-masing sebesar 5,04 persen, dan 5,46 persen.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, turunnya pertumbuhan manufaktur disebabkan oleh kondisi perekonomian global yang sulit.

Baca: Pertumbuhan Ekonomi Tahun Ini Diprediksi di Angka 5,08 Persen

“Sekarang ini perekonomian tidak mudah, perekonomian global hampir semua melemah, perang dagang, harga komoditas masih fluktuatif, dan itu tentunya akan terpengaruh,” kata Suhariyanto, Jakarta, Jumat (1/11).

Dia menyebutkan, ada limat sektor industri yang mengalami penurunan terbesar pada kuartal III 2019, yaitu industri barang logam, bukan mesin, dan peralatannya sebesar 22,95 persen, industri karet, barang dari karet dan plastic sebesar 16,63 persen, industri mesin dan perlengkapan sebesar 12,75 persen, industri pengolahan tembakau sebesar 12,73 persen, dan industri kendaraan bermotor , trailer, dan semi trailer sebesar 12,32 persen.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto juga mengatakan hal yang serupa. Menurutnya, ekonomi global saat ini sedang melambat sehingga berpengaruh terhadap perekonomian Indonesia.

“Memang permintaan di luar negeri agak turun. Tentunya kita akan carikan komoditas-komoditas sebagai penggantinya,” ujarnya.

Dia menilai, Indonesia harus mencari komoditas-komdoitas utama yang bisa menopang kinerja sektor manufaktur di tengah kondisi global yang sulit.

“Salah satunya memang kita sedang melihat yang di tekstil dan produk tekstil itu kita bisa didorong. Kemudian produk-produk yang lain,” ucapnya. (sh/tempo/liputan6)

 

 

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*