bana-10LiputanIslam.com—Sepekan yang lalu, aparat keamanan Mesir telah mengamankan lima orang dewasa dan dua anak kecil karena diduga bermaksud membuat foto-foto pemandangan berdarah untuk kemudian disebarkan sebagai gambar-gambar hoax pemandangan di kota Aleppo, Suriah.

Kelima orang itu diringkus ketika sedang melakukan proses pemotretan seorang gadis kecil.Si gadis mengenakan gaun putih yang berlumur cairan warna merah yang hendak dikesankan sebagai darah, dan tangan kanannya terlilih kain perban yang juga berlumur warna yang sama. Ia juga membawa boneka kecil yang terkoyak dan juga berlumur cairan merah.

Dalam pemeriksaan, mereka mengakui melakukan semua ini untuk membuat foto-foto yang akan disebar melalui berbagai medsos sebagai gambar pemandangan mengenaskan yang terjadi di Aleppo.  Dari tangan para tersangka telah didapat beberapa barang bukti termasuk satu kamera, enam telfon genggam, dan satu kotak plastik tempat menyimpan cairan merah. (Baca: Aparat Mesir Ringkus Para Pembuat Foto Hoax Perang Aleppo)

Kejadian ini hanya satu dari sekian banyak bukti lain bahwa telah terjadi sebuah manipulasi infomasi besar-besaran terkait perang Suriah. Media sosial secara masif dimanfaatkan untuk menyebarkan foto palsu (misalnya, bocah korban kekejaman Israel di Gaza, disebut sebagai korban Aleppo) atau foto yang memang dibuat dengan sengaja, seperti yang terjadi di Mesir.

Industri hoax di Perang Suriah bahkan menggunakan cara-cara yang lebih rumit, misalnya membuat film penyelamatan korban “bom barrel” yang diklaim diluncurkan oleh tentara Suriah dan Rusia. Namun selalu saja, ada orang-orang yang jeli menemukan kejanggalan dalam video-video itu sehingga mampu membuktikan bahwa semua video itu termasuk dalam proyek industri hoax. (Baca: Hoax Bocah di Kursi Oranye, dan hoax Saving Syrian Children)

Cara lain yang dibuat oleh para supporter Perang Suriah adalah menampilkan seleb-seleb media sosial. Mereka mengaku tinggal di Aleppo timur dan secara aktif menulis status atau rekaman video menceritakan “kekejaman tentara Assad”. Anehnya, jutaan orang di seluruh dunia percaya begitu saja cerita mereka. Padahal siapa saja bisa merekam dirinya sendiri di depan kamera handphone dan bisa bicara apa saja. Tugas jurnalis atau media massa adalah memverifikasinya sesuai standar jurnalistik. Namun bahwa media-media terkemuka seperti BBC, CNN, dan Al Jazeera pun malah berpartisipasi dalam mem-viral-kan tulisan atau video para seleb medsos ini.

Siapa saja mereka? Ada beberapa nama, antara lain Lina Shamy (Baca: Lina Shamy Narasumber BBC Ternyata Teman Teroris),  Bana Alabed, Mr. Alhamdo, Bilal Ahmed, dan Rami Abdul Rahman.

Mari kita lihat siapa Bana Alabed sebenarnya. Sejak bergabung dengan Twitter pada September 2016, dengan segera Bana yang baru berusia 7 tahun mendapatkan 359.000 follower. Ia aktif menceritakan kehidupannya yang ‘sengsara akibat serangan tentara Suriah dan Rusia’. Bahkan ia menyerukan kepada dunia agar ‘biarkan perang Dunia III terjadi daripada Assad dan Rusia melakukan serangan Holocaust di Aleppo’. Di lain hari, Bana menulis, “Ayahku terluka, aku sedang menangis.”

Siapa ayah Bana? Namanya Ghasan Al Abed. Dengan mengecek akun facebooknya, terlihat foto-foto Ghasan bersama dengan para “mujahidin”, bahkan berpose angkat senjata di depan bendera berlogo ISIS.

Pengamat Timur Tengah, Dina Sulaeman, menulis hasil verifikasinya terhadap sosok Bana, antara lain bahwa ada kaitan erat antara Bana dan para “mujahidin”. Dina menulis:

Bana juga pernah berfoto dengan jurnalis Hadi Abdallah (foto mereka dimuat di akun Al Jazeera). Pengecekan foto-foto lain menunjukkan Abdallah kedapatan berpose bersama pasukan Al Nusra dan salah satu pimpinan pasukan teror di Suriah, Abdullah al-Muhaysini (asal Saudi);  bahwa anggota keluarga Bana juga pernah berfoto akrab dengan Mahmoud Rslan, fotografer Omran Daqneesh (si “bocah di kursi oranye”). Dan Rslan pun kedapatan berpose riang dengan Norouddin Zinki yang menggorok leher bocah Palestina, Abdullah Isa, sambil tertawa di depan kamera.  Dari jejaring Bana ini terlihat bahwa Bana berasal dari kelompok militan sehingga menjadikannya satu-satunya ‘narasumber’ dalam tulisan soal Aleppo sama sekali tidak valid.

Selain itu, Sputniknews memberitakan tentang upaya seorang aktivis Suriah bernama Maytham Al Ashkar. Ia pernah mengontak Bana untuk mengupayakan evakuasi Bana dan keluarganya keluar dari Aleppo timur. Awalnya,  Maytham menggunakan bahasa Arab, tetapi jawaban yang diberikan selalu saja dalam bahasa Inggris. Dalam screen shot percakapan di Twitter dengan Bana (dan ibunya, Fatemah), Maytham menyatakan bahwa tentara Suriah dan Gubernur Aleppo sudah memberikan jaminan perlindungan penuh untuk Bana dan keluarganya  bahkan jaminan amnesti untuk ayah Bana yang merupakan anggota “mujahidin”. Namun setelah upaya panjang Maytham untuk menolong, pihak Bana menolak dievakuasi. Fatemah rupanya lebih percaya pada Obama dan menulis cuitan yang ditujukan kepada Obama, “Apakah kami dapat dibantu keluar dari sini?”

Kisah Bana disebarluaskan media-media mainstream, seperti BBC, Guardian, Telegraph. Bahkan Washington Post menjuluki Bana sebagai “Anne Frank dari Aleppo” (Anne adalah anak Yahudi yang konon menjadi korban kejahatan Nazi dan menulis sebuah buku harian menceritakan pengalamannya itu). Bahkan JK Rowling pun terharu dengan kisah Bana dan mengiriminya buku Harry Potter.

Keberadaan Bana di Aleppo juga diragukan oleh artis dan sutradara film, Carla Ortiz. Carla berada di Aleppo saat proses pengambilalihan wilayah timur oleh tentara Suriah dan menyaksikan sendiri proses evakuasi para warga. Menurut Ortiz, selama dia di ‘garis depan’ bersama wartawan dari AS dan Inggris, mereka sama sekali tidak bisa mengirim Tweet, karena tidak ada jaringan internet. Carla bahkan ‘menantang’, dia ingin melihat rekaman video yang benar-benar memperlihatkan bahwa Bana sedang dievakuasi dari Aleppo timur. Tiba-tiba saja, keluarga Bana berfoto bersama Erdogan dan istrinya di Turki dalam keadaan segar bugar.

Barbara McKenzie setelah menganalisis akun Bana menyimpulkan bahwa, “Tidak diragukan lagi, Proyek Bana adalah tipuan; tweets ditulis untuk mempropagandakan narasi NATO tentara Perang Suriah terkait tentara Suriah dan Rusia, dengan tujuan untuk memfasilitasi agenda perubahan rezim di Suriah.”

Hal senada disampaikan Dina Suleman. “Kita semua berduka untuk anak-anak korban perang Suriah. Masyarakat dunia harus berupaya menghentikan perang agar anak-anak itu bisa kembali hidup normal seperti sebelum masa perang. Namun cara membantunya tentu bukan dengan menjadi corong propaganda global media arus utama dunia yang tengah melakukan PR campaign untuk sebuah agenda penggantian rezim,” tulis Dina. (fa)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL