Washington,LiputanIslam.com—Pada Juni lalu,  Presiden AS Donald Trump dilaporkan telah membatalkan serangan militer terhadap Iran akibat jatuhnya pesawat mata-mata Global Hawk di wilayah perairan Republik Islam. Kini, presiden AS menyebut keputusan itu telah memberinya kesempatan yang cukup untuk mengambil tindakan lebih keras jika insiden serupa terjadi lagi.

Peringatan ini disampaikan Trump pada Senin (1/7) kemarin. Melalui sebuah wawancara dengan Fox News, Trump mengklaim keputusan yang dibuatnya waktu itu telah mendatangkan “modal besar” di AS. Menurut Trump,  dirinya siap melakukan  tindakan yang jauh lebih buruk, jika sesuatu terjadi.

“Saya mendapat pujian dari banyak orang. Mereka memberi saya banyak penghargaan, ”kata presiden dalam wawancaranya.

“Banyak orang menyebut keputusan itu sebagai momen hebat yang terdengar agak mengejutkan” tambahnya.

Pada bulan Juni, Trump dilaporkan telah membuat keputusan pada menit-menit terakhir untuk tidak membalas sikap Iran dengan agresi militer.

“Saya memutuskan untuk tidak melakukannya pada menit-menit terakhir,” kata Trump.

Selanjutnya, Trump menerangkan bahwa dirinya tak ingin pergi berperang dengan Iran.  Namun,  ia mengaku tak bisa mengizinkan Iran memiliki senjata nuklir. Iran sendiri telah membantah tudingan itu berkali-kali.

Trump menegaskan bahwa ia ingin bernegosiasi dengan Iran dan membuat kesepakatan baru untuk menggantikan Rencana Aksi Komprehensif Bersama ( JCPOA ) 2015 , yang terjadi pada masa pemerintahan Presiden AS Barack Obama. Pada tahun 2018, Trump mendapatkan kritik keras dari Iran dan negara-negara penandatangan JCPOA lainnya , karena telah keluar dari JCPOA secara sepihak.

Baca: Zarif akan Singkirkan Dolar AS dari Perdagangan Luar Negeri Iran

Insiden jatuhnya pesawat nirawak AS diperairan Iran merupakan Puncak ketegangan antara Tehran dan Washington, pasca Washington meningkatkan kehadiran militernya di Teluk Persia, mengirimkan pasukan darat, kendaraan lapis baja, pembom dan kelompok serangan kapal induk ke wilayah tersebut. Menanggapi kebijakan AS, Iran menuntut agar para penandatangan JCPOA UE memberi negara itu mekanisme perdagangan yang layak untuk melewati sanksi pembelian minyak AS.

Namun, uni Eropa gagal memenuhi tuntutan yang diberikan Iran berdasarkan atas kesepakatan yang telah dibuat. Kegagalan UE akhirnya membuat Iran melanjutkan pengayaan uranium melewati 3,6 persen sesuai isi teks perjanjian JCPOA.

Pada hari Senin, media Iran melaporkan bahwa Teheran telah melampaui produksi uraniumnya yang oleh JCPOA hanya ditentukan sebatas 300 kg (660 pon). Komite Hubungan Luar Negeri Senat AS menanggapi sikap Iran dengan tuduhan bahwa Republik Islam telah melanggar perjanjian. Padahal,  Amerika sendiri telah lebih dahulu mengkhianati JCPOA.

Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif membantah tuduhan itu, dan memberikan tangkapan layar dari teks perjanjian yang digunakan Iran untuk menyatakan maksud dan tujuannya.(fd/Sputnik)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*