Foto: Jacob Silberberg/AP

Tehran,LiputanIslam.com—Ketegangan antara Iran-AS semakin memuncak pasca tumbangnya pesawat nirawak AS dihantam rudal Iran karena dianggap melanggar wilayah perbatasan Iran. Membalas hal itu, Washington mengklaim telah menjatuhkan satu atau dua pesawat nirawak Iran karena dianggap terlalu dekat dengan kapal Amerika yang berlayar di Selat Hormuz. Meski begitu, tak ada satu pun bukti yang bisa ditunjukkan AS terkait klaim tersebut.

Portal berita al-Jazeera mengutip pernyataan penasehat pimpinan tertinggi Iran sekaligus mantan Menteri Pertahanan Iran, Hossein Dehgha, bahwa Iran akan membidik semua pangkalan militer Amerika di kawasan jika perang antara AS-Iran meletus.

Dehghan mencatat, Iran tidak akan merundingkan program rudalnya kepada siapa pun, termasuk Presiden AS, Donald Trump.

Ia juga menyampaikan sempat mengecam Uni Emirat Arab karena dianggap sebagai wadah Amerika untuk menyerang keamanan nasional Iran. Namun, negara itu telah mengirim utusannya ke Iran untuk merundingkan perdamaian.

Tak sampai di situ, Dehghan juga memperingatkan perubahan status Selat Hormuz yang dianggap bisa memicu konfrontasi yang mengerikan. Salah satu perubahan itu dilihat dari sikap Inggris yang ingin membentuk “Misi perlindungan maritim”. Menurutnya, ini adalah tindakan yang bisa memicu dampak tak terduga.

Baca: Setelah Oman, Pakistan Turut Kampanyekan Konflik AS-Iran Dihentikan

Akhir-akhir ini, selain harus berhadapan dengan Amerika, Iran juga dipaksa untuk bersitegang dengan Inggris. Terlebih setelah penyitaan tanker Iran oleh angkatan laut Inggris, disusul dengan penyitaan tanker Inggris oleh IRGC di Selat Hormuz beberapa hari lalu. (fd/Sputnik)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*