indonesia aherJakarta, LiputanIslam.com–Sebuah video yang beredar di grup-grup Whatsapp menunjukkan adegan yang mengejutkan. Dalam video itu terlihat Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan (Aher) sedang duduk di lantai bersama beberapa orang  berpakaian khas Arab dan mereka satu sama lain berbicara dalam bahasa Arab. Di sebelah Aher, duduk seseorang dengan pakaian khas ulama Saudi duduk di kursi (sehingga posisi duduknya lebih tinggi daripada Aher, sang gubernur). Lebih jauh lagi, Aher menyebut Iran telah membiayai 3000 pelajar Indonesia untuk studi di Iran, dan meminta agar Arab Saudi juga memberikan beasiswa sebanyak itu.

Di bagian lain pernyataannya, Aher menyebut, “Orang-orang Syiah itu kelihatan kuat dalam kelemahannya. Mereka menjadi kuat, karena kita lemah. Kalau kita kuat, maka otomatis mereka menjadi lemah. Itu merupakan hukum alam. Kami sekarang sudah membangun pesantren besar di Subang dan Sukabumi, dan segera di Garut. Nantinya, sebagai pemerintah, kami ingin membangun 30 pesantren lagi.”

Kemudian, Aher mengatakan bahwa setiap tahun Iran memberi beasiswa kepada 3000 pelajar Indonesia untuk belajar ke Iran. Seseorang di dalam video terlihat terkejut, karena menurutnya yang belajar ke Saudi cuma 150 orang per tahun. Oleh sebab itu, Aher meminta agar Saudi memberi beasiswa minimal sama dengan Iran.

Seorang mahasiswa Indonesia di Iran saat diperlihatkan video tersebut berkomentar, “Iran dijual untuk tawar-menawar dengan Saudi. Lagipula, jumlah mahasiswa Indonesia di Iran saat ini hanya 150-an orang.”

Pengurus IKMAL (Ikatan Alumni Jamiah Al Mustafa, lembaga alumnus Iran di Indonesia) yang dihubungi LI menyatakan, total alumnus Iran sejak berdirinya Republik Islam Iran (1979) hingga kini tercatat hanya 270 orang.

Data dari KPU (Komisi Pemilihan Umum) Indonesia pun menunjukkan bahwa warga Indonesia di Iran yang mengikuti pemilu 2014 adalah 289 orang. Angka ini jauh berbeda dengan klaim Aher bahwa setiap tahun ada 3000 orang Indonesia dikirim belajar di Iran.

Arab Saudi dikenal royal dalam memberikan bantuan kepada tokoh-tokoh politik. Baru-baru ini di Malaysia, Perdana Menteri Najib Razak dituduh korupsi karena memiliki dana sejumlah 681 juta dollar AS (setara hampir Rp 10 triliun) di rekeningnya. Kemudian, Kejaksaan Agung Malaysia pada Selasa (26/1/2016) mencabut tuduhan tersebut dan menyatakan bahwa uang sebesar itu diterima Najib di akun bank pribadinya sebagai hadiah dari keluarga Kerajaan Arab Saudi, yang ditransfer antara akhir Maret dan awal April 2013. (dw)

Baca juga: Kapankah Sebenarnya Aher Bertemu “Donatur” Arab?

Video Aher dan orang Saudi bisa dilihat di sini:

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL