Sumber: market.bisnis.com

Jakarta, LiputanIslam.com— Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat pada 2020 diprediksi akan berada di kisara Rp 14.600 hingga Rp 14.700 per dolar AS.

Angka tersebut lebih lemah dari target pemerintah dalam Rancangan Anggaran dan Pendapatan Belanja Negara (RAPBN) 2020. Dalam RAPBN 2020, pemerintah mematok rupiah di kisaran Rp 14.400 per dolar AS.

Peneliti Indef Eko Listianto mengatakan, pelemahan rupiah disebabkan oleh defisit neraca transaksi berjalan yang membengkak pada kuartal II 2019.

Baca: Rupiah Menguat ke Posisi Rp 14.194 per Dolar AS

Menurutnya, pemerintah saat ini masih sulit untuk menahan impor karena masih banyak kebutuhan bahan baku industri dari luar negeri.

“Tidak bisa juga potong impor besar-besaran, nanti industri dalam neger bagaimana? Kan butuh bahan baku,” kata dia, Senin (19/8).

Sementara itu, dia menilai, Indonesia masih tertekan oleh kondisi global sehingga kinerja ekspor tidak bisa diandalkan.

“CAD mengatasi susah, pilihan tidak banyak. Hanya ekspor dan impor. Mau neraca jasa, tapi lebih susah lagi karena jasa banyak menggunakan perusahaan asing, misalnya ekspor tapi gunakan kapal asing. Jadi sama saja,” jelasnya.

Ekonom universitas Indonesia (UI) Telisa Aulia Falianty menambahkan, potensi pelemahan rupiah tidak hanya disebabkan neraca perdagangan dan neraca transaksi berjalan, tetapi juga minimnya investor global untuk menanamkan dananya di Indonesia.

Dia menuturkan, pertumbuhan ekonomi pada kuartal II 2019 melambat sehingga dapat mempengaruhi pasar saham.

“Itukan pengaruhi pasar saham juga, jadi rupiah ini bisa soal fundamental dan non fundamental. Kalau fundamental kan soal mungkin ekspor dan impor,” tuturnya. (sh/liputan6/cnnindonesia)

 

 

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*