Stephen[Baca Bagian Sebelumnya]

Sebagai contohnya, selama 1980-an, Muslim Brotherhood atau Ikhwanul Muslimin di Gaza dan Tepi Barat selama beberapa tahun selalu mengirimkan pemuda Palesttina ke Afghanistan untuk bertempur melawan Tentara Sovyet. Hal ini menjadi dasar argumen bahwa ‘true jihad’ atau jihad yang sebenarnya ternyata bukanlah dalam melawan pendudukan Israel di Jalur Gaza, tetapi jihad jauh di sana di Asia Tengah. Agensi dari beberapa negara yang terlibat dalam mendukung jihad tersebut adalah CIA, dan intelejen dari Saudi dan Pakistan. Tak perlu rasanya dikatakan bahwa pendudukan militer dan intelejen Israel di Palestina, alih-alih membuat perlawanan Palestina menguat, malah mendorong keberangkatan para pemuda yang telah dicuci dengan pemahaman radikal untuk meninggalkan Palestina, dan memperlemah nasionalisme yang dipelopori PLO.

Nasrallah menyebut, “Setelah Afghanistan, maka mereka akan menciptakan prioritas yang baru lagi.” Saudi memproduksi perang dan menciptakan musuh baru yang disebut Iran. Mereka menanamkan gagasan bahwa Iran adalah musuh bagi banyak golongan Islam, bahwa prioritas saat ini adalah menghadapi Syiah, menghadapi pemikiran dan ekspansi Syiah, dan bahwa Syiah ini adalah bahayang lebih besar bagi dunia Muslim dibandingkan Israel dan Zionis. Namun Saudi tidak menunjukkan permusuhannya dengan Shah Iran, seorang Syiah yang dekat dengan Israel. Banyak pendukung ideologi yang diadopsi Saudi percaya bahwa memerangi orang murtad dan melawan Stiag lebih penting dibandingkan menentang kolonialisme. Tentu saja ini adalah hal yang menyenangkan bagi kolonialis dan Barat yang merupakan sponsor mereka.

Nasrallah melanjutkan,

“Ketika ada konflik di Mesir saat ini, ada polarisasi yang mendalam. Apakah konflik ini bersifat sekterian? Bukan, malainkan politik. Di Libya ada konflik besar dan polarisasi mendalam. Apakah itu sekterian? Di Tunisia ada konflik besar dan polarisasi mendalam juga. Apakah ini sekterian? Di Tunisia ada konfli politik, begitu juga dengan Yaman. Ketika kita melihat negara-negara yang ditandai dengan pluralisme agama dan keberagaman seperti Suriah, Lebanon, Irak dan Bahrain, konfliknya disebut sebagai konflik sekterian, padahal pada kenyataannya murni konflik politik. Mengapa Anda mengubahnya seolah-olah konflik tersebut bersifat sekterian? Mereka melakukan ini dengan sengaja, bukan karena kebodohannya. Hari ini, sekterianisme adalah salah satu senjata yang paling merusak di wilayah tersebut.”

Tradisi Kolonial

Akar konflik di Timur Tengah adalah pertanyaan “apakah sebuah negara Yahudi ekslusif yang menetap di tanah yang dirampas dari Palestina memiliki hak untuk eksis?” Jawabannya jelas: tidak dibenarkan, atau tidak ada hak untuk hidup sebagaimana yang dilakukan Apartheid di Afrika Selatan. Namun bukan berarti keberadaan Yahudi tidak boleh diterima di negara yang demokratis dan bersejarah di tanah Palestina ini. Juga tidak realistis untuk mengharapkan pengusiran pemukim Yahudi dari Palestina sebagai solusi konflik. Namun ada solusi yang bisa diambil, yaitu membentuk satu negara yang demokratis, semua warga negara memiliki hak dan kewajiban yang sama, sederajat, tanpa memandang agama – karena peraturan seperti ini bersesuaian dengan prinsip politik yang telah diterima secara luas. Runtuhnya rezim Apartheid di Afrika Selatan bukan hanya sekedar harapan, tetapi mendapatkan dukungan yang populer di seluruh dunia.

Lantas, dokumen yang dirilis oleh Wikileaks baru-baru ini mengungkapkan bahwa Hillary Clinton, saat masih menjabt sebagai Menteri Luar Negeri, menyatakan bahwa kebijakan Washington di Suriah adalah menggulingkan pemerintah nasionalis pro-Palestina di Damaskus, agar Poros Perlawanan melemah. Nasrallah sendiri telah menyebutkan hal ini tiga tahun yang lalu. “Israel tahu bahwa sumber atau salah satu sumber yang paling penting dalam kekuatan kelompok perlawanan di Lebanon dan Palestina adalah Suriah dan Republik Islam Iran. Untuk alasan inilah mereka ingin mengontrol/ merebut Suriah, agar bisa melemahkan kekuatan perlawanan di Palestina dan Lebanon.

Untuk merebut Suriah, maka Israel, negara yang berdiri sebagai ‘kompensasi’ atas genosida Yahudi di Eropa, malah berkolusi dengan organisasi teroris untuk melakukan genosida itu sendiri, sebagai bagian dari proyek neo-kolonial yang lebih besar. Proyek kolonial Eropa sering mengandalkan genosida untuk memudahkan jalan bagi mulusnya kekuasaan pemukim Eropa terhadap penduduk asli. Bukan genosida itu sendiri yang mengharuskan kita melakukan agitasi, tetapi induknya, yaitu tradisi kolonial yang menganggap genosida sebagai praktik yang biasa mereka lakukan.

Holocaust terbesar bukanlah yang dilakukan terhadap orang-orang Yahudi di Eropa oleh Nazi Jerman, dan bukanlah satu-satunya, karena genosida dengan pemusnahan sistematis juga dilakukan oleh Roma, komunis dan Slavia. Jika kita harus menunjukkan prioritas atas genosida, sebagaimana yang dipropagandakan oleh kaum Yahudi dalam Holocaust, maka ada genosida yang lebih besar, misalnya genosida terhadap penduduk asli Amerika. Jika kita merujuk pada banyaknya manusia yang menjadi korban genosida, maka American Holocaustlah yang merupakan kejahatan terbesar dari tradisi kolonial Eropa.

Rezim Hitler, perlu dicatat, mewakili ideologi dan metode kolonial Eropa dalam prakteknya. Metode yang didasarkan dan dipelopori oleh orang-orang Inggris, Perancis, dan kemudian Amerika Serikat, untuk membangun imperium yang lebih luas. Apa yang membuat Hitler dicela oleh pemikir Barat? Bukan kebrutalan metode maupun ideologi rasisnya, tetapi karena ia berusaha membangun imperium Jerman ke wilayah Timur, sehingga akan berbahaya bagi Inggris yang telah menjajah India, Perancis yang menjajah Afrika dan Indo-China, juga bagi para pemuda AS yang tengah membangun imperium dalam lintas benua.

Hitler mengatakan bahwa Eropa Tengah dan Eropa Timur, termasuk Rusia, akan menjadi milik Jerman. Amerika Barat menjadi milik AS, dan India tetap menjadi milik Inggris. Terkait pernyataannya ini, Aime Cesaire berkomentar,

“Barat tidak bisa memafkan Hitler bukan karena kejahatan yang dilakukannya, …itu kejahatan terhadap orang-orang kulit putih. Sejarah mencatat bahwa Hitler menerapkan metode kolonial ala Eropa yang selama ini dipraktekkan untuk orang-orang Arab dan Aljazair, untuk kuli-kuli India dan negro Afrika. Nazisme itu adalah kolonialisme yang dilepas di Eropa. Dan kini, mereka kembali mempraktekkannya di Suriah. (ba/LiputanIslam.com)

 *Stephen Gowans adalah analisis politik internasional asal Kanada. Tulisannya dipublikasi di berbagai media internasional. Artikel ini diterjemahkan dari Globalresearch.ca

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL