Stephen[Baca Bagian Pertama]

Arab Saudi: Basis dari Reaksi Dunia Arab

Perspektif tentang Arab Saudi, dan negara-negara tirani Teluk lainnya adalah “yang setia kepada neo-kolonial dan kekuatan Zionis”, sebuah harga yang disama-ratakan oleh Partai Arab di Knesset Israel, setelah negara-negara monarki ini melabel Hizbullah sebagai organisasi teroris. Hizbullah bergabung dengan Suriah, Iran, dan Rusia, dalam memerangi sekterian dan terorisme dari Al Qaeda, dan hal ini yang menyebabkan negara Arab monarki mengkhianati kelompok perlawanan Lebanon ini.

Nasrallah menyebut bahwa ‘satu-satunya negara atau entitas yang memandang Israel sebagai ancaman yang eksistensial adalah Republik Islam Iran. Mengapa bukan Arab Saudi—yang merupakan negara Arab dan Muslim? Dan bila retorika Israel dipercaya, maka satu-satunya yang seharusnya tegas memusuhi Israel adalah Arab Saudi yang memiliki anggaran militer terbesar keempat di dunia, setelah AS, Tiongkok, dan Rusia. Riyadh telah menghabiskan anggaran untuk militer perkapita melebihi beberapa negara di dunia, termasuk Israel yang berada di urutan kedua, dan AS yang berada di tempat ketiga. Anggaran militer Saudi mencapai 81 miliar dolar, enam kali lebih besar dibandingkan Iran yang hanya 13 miliar dolar. Seharusnya, Israel menganggap Saudi sebagai ancaman yang lebih besar dibandingkan Iran. Terlebih, anggaran militer Saudi lima kali lebih besar dibandingkan anggaran militer Israel. Israel juga menghabiskan lebih banyak dana untuk militer dibandingkan Iran. Lalu bagaimana bisa, Iran, bukan Saudi, yang dianggap sebagai ancaman oleh Israel?

Negara-negara Arab, sejak lahirnya, telah terlibat dengan imperialisme Barat dan telah bertindak sebagai agen lokal sebagai imbalan atas perlindungan yang menyerang rakyatnya. Negara-negara ini telah dibentuk oleh Barat. Batasan artifisial yang menjadi batas-batas negara tersebut, telah didesain oleh imperalis yang kala itu berupaya membangun pagar di sekitar sumber-sumber kaya minyak pada tahun 1920-an. Saudi tidak menjadi pengecualian. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Nasrallah, keluarga Saud yang diktator ditegakkan oleh dukungan dari Inggris, uang dari Inggris, dan juga militer Inggris, yang merupakan bagian dari skema kolonial Inggris untuk mengontrol negara-negara Arab. Inggris mendukung tirani keluarga Saudi agar tetap kuat. Inggris mengibarkan bendera setengah tiang di kantor pemerintah sebagai penghormatan atas mangkatnya Raja Abrdullah, yang menunjukkan hipokritas dari elit Inggris, yang telah mengintegrasikan dirinya dengan negara pemenggal kepala, tiran Islam dan misoginis di semenanjung Arab, sementara di saat yang sama mereka mengkkalim sebagai juaranya demokrasi.

Hari ini, Arab Saudi, bersama-sama dengan Israel, berdiri sebagai aliansi regional yang sangar penting bagi AS. Dan untuk melindungi kediktatorannya, peraturan Saudi telah merekonsiliasi dengan eksistensi dari negara Yahudi sebagai pos terdepan dari imperialisme di tengah-tengah negara Arab. Sebagaimana Israel, Saudi bisa dibilang sebagai ‘satrapy’ atau provinsi bagi AS, yang telah membiarkan kekayaan minyaknya dikeruk oleh AS melalui bank-bank investasi AS dan harus membayar atas tentara-tentara AS.

Negara Pendukung ISIS

Kediktaoran dari rezim di Semenanjung Arab akhirnya menyebabkan kawasan regional bangkit untuk melakukan perlawanan terhadao neo-kolonialisme, penolakan terhadap hegemoni AS dan Israel dan juga dukungan terhadap Palestina untuk menentukan nasib mereka sendiri. Namun kemudian upaya ini dilemahkan dengan menggunakan agama. Perlawanan terhadap imperialis Barat kemudian dialihkan sebagai perang terhadap kaum murtad dan kafir.

Padahal, orang-orang kafir maupun murtad telah bertransformasi menjadi kelompok anti-kolonoalis di kawasan ini, baik mereka yang berhaluan nasionalis sekuler, sosialis, komunis, juga ada Hizbullah dan Iran, yang semuanya telah menolak intervensi Barat di dunia Arab dan Muslim, entah itu melalui intervensi langsung, ataupun melalui proksi Israel dan kerajaan-kerajaan Arab. Untuk mengaburkan perbedaan-perbedaan politik, Saudi kemudian menggunakan Islam dan Al Quran untuk mencela organisasi masyarakat yang berhaluan sekuler ataupun beranggotakan orang-orang non-Muslim. Lalu, Iran dan Hizbullah disebut sebagai kelompok murtad karena memiliki pandangan yang berbeda dalam Islam. Pertanyaan tentang perselingkuhan agama dan kemurtadan, dieksploitasi dalam teori Machiavellian sebagai tabir asap untuk mengaburkan perbedaan politik dan memobilisasi ummat Sunni.

Sifat tirani Arab diakui baru-baru ini dalam New York Times. Reporter Ben Hubbard menulis, “Negara Saudi dibentuk berdasarkan aliansi antara keluarga Saud dengan seorang ulama yang bernama Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab, yang mengajarkan penghakiman militer atas nama jihad untuk memerangi orang-orang yang dianggap kafir, dan kebanyakan dari mereka adalah Muslim yang memiliki pemahaman berbeda.”

Tidak ada yang berubah. Dengan Saudi yang berlindung di bawah imperium AS, terinspirasi dari ideologi Wahabi – yang juga dianut oleh Al Qaeda dan cabang-cabangnya, yang kemudian dijadikan pembenaran untuk melakukan penaklukan melalui jalur militer terhadap daerah-daerah yang merupakan oposisi atas hegemoni AS dan kolonialisme Zionis. Contohnya adalah klaim jihad melawan sekuler kafir (pemerintah Suriah) dan jihad melawan murtad (Syiah Iran dan Hizbullah).

Nasrallah menunjukkan bahwa perlawanan Arab dan Muslim yang seharusnya ditujukan terhadap Israel malah disalurkan ke dalam proyek-proyek lainnya, untuk menyenangkan orang Israel. Ia mempertanyakan priorias pejuang yang bergabung dalam perang Afghanistan pada tahun 1980-an terhadap pemerintah Marxis dan Leninis dan militer Sovyet. Ia bukan mempertanyakan legitimasi pertempuran, tetapi mempertanyakan prioritas. Menurutnya, menghancurkan rezim Zionis yang berdiri ekslusif di tengah-tengah bangsa Arab dan Muslim adalah tujuan yang paling mendesak.

Saudi mengambil peran pemimpin dalam menyebarkan Islamisme, dan berkali-kali, berabad-abad yang lalu, kaum Islamis selalu menjadi “useful allies” atau sekutu yang bermanfaat bagi kekuatan Barat, Israel dan Arab monarki. (Bersambung ke bagian 3)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL