brandonOleh:  Brandon Turbeville*

Hari ini, adalah ‘ulang tahun’ yang ketiga belas atas peristiwa 11 September yang meluluh-lantakkan gedung WTC, dan sepertinya, cita-cita Amerika Serkat (AS) dan NATO untuk melakukan intervensi kepada Suriah, kian mendekati kenyataan.

Setelah bertahun-tahun melakukan propaganda bahwa Bashar al-Assad bertindak brutal pada rakyatnya sendiri, yang lantas disusul dengan munculnya kelompok teroris Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) – lengkap dengan adegan penggal kepala, hingga kini rakyat AS masih bingung untuk memetakan, apa yang sesungguhnya terjadi di Suriah, Irak, dan bahkan di negaranya sendiri. Akibatnya, rencana intervensi militer terhadap Suriah kini disetujui oleh mayoritas penduduk, padahal, tahun lalu mereka menentang keras.

Dengan demikian, di hari ulang tahun ketiga belas tragedi 11 September, Presiden AS Barack Obama telah berencana untuk membuat pernyataan dramatis guna memerangi ISIS di Irak dan Suriah. Meskipun Obama telah berulang kali menyatakan bahwa ia tidak akan mengirimkan pasukan AS ke Irak maupun Suriah, namun Obama telah melanggar janjinya, dengan menyebarkan sedikitnya 1.100 personil pasukan AS di Timur Tengah. Berikut ini laporan dari Detroit Free Press:

“….rencana ini diharapkan dapat meningkatkan serangan udara di Irak yang dimulai pada bulan Agustus. Obama juga akan membahas koalisi dengan sekutunya yang akan bersama-sama melawan ISIS, dan koalisi ini bertujuan untuk menguatkan AS dalam pertempuran yang mungkin akan berlangsung bertahun-tahun.  Dalam pidatonya, Obama juga membahas potensi serangan udara jangka panjang terhadap Suriah, kendati waktu tersebut  belum tiba…”

Dengan kata lain, Obama adalah George W Bush yang lain, yang mencanangkan perang tanpa akhir terhadap negara berdaulat.

Dalam sebuah wawancara dengan NBC Meet The Press, Obama menyatakan bahwa ia berharap (pemberontak) Suriah juga turut melawan ISIS. Obama berujar,

“Dalam wilayah yang dikontrol (oleh pemberontak), kami akan harus mengembangkan oposisi Sunni moderat yang mengontrol wilayah Suriah, dan bisa diajak bekerja sama. Gagasan bahwa AS harus terjun langsung dalam kancah perang di Suriah, saya pikir hal itu adalah kesalahan besar. Dan sikap saya sangat jelas dan eksplisit tentang itu. “

Pernyataan Obama ini cukup menarik mengingat fakta bahwa pemerintahannya mengaku telah mengembangkan oposisi Sunni moderat yang mengontrol wilayah  di Suriah dan bisa diajak bekerja sama sejak tahun 2011. Sesungguhnya hal itu hanyalah sebuah pengulangan propaganda, untuk menutupi jejak Barat dalam mendukung ISIS. Mengapa? Karena tidak ada yang namanya oposisi moderat di wilayah Suriah, dan faktanya, AS memang mendukung lahir dan berkembangnya ISIS. Namun hal ini tidak akan disadari dan akan segera berlalu dari ingatan warga AS, yang lebih terfokus pada perkembangan sepak bola, ataupun potensi perang nuklir dengan Rusia di dalam konflik Ukraina.

Adakah Oposisi Moderat di Suriah?

Tony Cartalucci menulis dalam artikelnya yang berjudul “In Syria, There Are No Moderates“:

“… tidak pernah ada, dan juga tidak ada kelompok “moderat” yang beroperasi di Suriah. Barat sengaja mempersenjatai  dan mendanai Al-Qaeda dan ekstremis lainnya sejak tahun 2007 dalam rangka mempersiapkan pertumpahan darah dengan menunggangi isu sekterian – guna melayani kepentingan AS- Arab Saudi- Israel. Kawanan teroris (baik yang disebut moderat maupun ekstremis) beroperasi dan berbagi tempat di sepanjang perbatasan Suriah untuk memudahkan arus logistik dan senjata dari negara-negara Barat. Tujuannya adalah untuk mengabadikan konflik, dan akan menjadi legitimasi bagi mitra Barat yang berbatasan dengan Suriah untuk melakukan intervensi militer langsung (dengan alasan mengamankan wilayahnya).

Bahkan, media sekaliber New York Times pun ‘terpaksa’ membenarkan analisis dari Cartalucci, bahwa tidak ada kelompok oposisi moderat yang beroperasi di Suriah, sebagaimana yang ditulis oleh Ben Hubbard pada April 2013:

Di kota terbesar Suriah, Aleppo, pemberontak yang beraffiliasi dengan Al-Qaeda mengontrol pembangkit listrik, menguasai toko roti  dan memberlakukan pengadilan sesuai hukum Islam (versi pemahamannya). Mereka merampas ladang minyak, lalu mempekerjakan pegawai. Dan kini, mereka mendapatkan untung besar dari hasil penjualan minyak mentah.

Di seluruh Suriah, daerah yang dikuasai pemberontak terlihat diberlakukannya pengadilan Islam yang dikontrol oleh ulama, yang berasal dari kelompok ekstremis. Bahkan Dewan  Militer Agung, faksi pemberontak hasil racikan Barat juga berhadapan-hadapan dengan kelompok radikal ini.

 ISIS Dikendalikan Oleh NATO

Penting untuk diketahui bahwa kekuatan militer ISIS tidak berasal dari kekuatan dari gua-gua gelap di Afghanistan. ISIS sepenuhnya diciptakan, dan dikendalikan oleh NATO dan Barat. Berikut ini keterangan dari Tony Cartalucci, dalam artikelnya yang berjudul “Implausible Deniability: West’s ISIS Terror Hordes In Iraq”:

Sejak tahun 2011, bahkan sebenarnya dimulai pertama kali pada tahun 2007, AS telah mempersenjatai, mendanai dan mendukung Ikhwanul Muslimin dan segudang organisasi teroris lainnya untuk menggulingkan pemerintahan Suriah, melawan Hizbullah di Lebanon, melemahkan kekuatan Iran, dan negara manapun di kawasan yang bersikap ‘ramah’ pada Teheran.

Miliaran uang tunai telah disalurkan ke tangan teroris seperti Front Al-Nusra, Al-Qaeda Irak (AQI), dan kini, kepada teroris ISIS. Jika diperhatikan dengan jelas pada peta, perbatasan wilayah-wilayah yang dikuasai ISIS justru berbatasan langsung dengan Turki, dan inilah bukti, bahwa dari wilayah negara yang menjadi anggota NATO-lah, teroris ini berasal.

ISIS telah lahir di wilayah NATO, dilatih oleh CIA, dan turut dipersenjatai oleh Saudi, Qatar, dan juga anggota NATO lainnya.  Bantuan ‘tak mematikan’ juga diterima ISIS, yang bisa kita saksikan dalam bentuk kendaraan yang digunakan ISIS untuk berkonvoi.

Seorang wartawan pemenang Pulitzer Prize, Seymour Hersh, juga mengungkapkan dalam karyanya “The Redirection”:

“Untuk melemahkan Iran, yang didominasi Syiah, pemerintahan Bush telah memutuskan untuk mengkonfigurasi ulang prioritas di Timur Tengah. Di Lebanon, AS telah bekerja sama dengan pemerintah Arab Saudi, dalam operasi rahasia yang dimaksudkan untuk melemahkan Hizbullah, organisasi Syiah yang didukung oleh Iran. AS juga telah mengambil bagian dalam operasi rahasia yang bertujuan menghancurkan Iran dan sekutunya, yaitu Suriah. Hasil lain dari operasi ini adalah, memperkuat kelompok-kelompok ekstremis Wahabi yang sevisi dengan militan Islam lainnya, yang (seolah-olah) memusuhi Amerika dan bersimpati kepada Al-Qaeda.”

“Kelompok-kelompok ekstremis yang sevisi dengan militan Islam dan bersimpati kepada Al-Qaeda” adalah definisi verbatim dari ISIS. Pernyataan Hersh tersebut adalah sebuah prediksi yang berdasarkan informasi faktual dan realitas konflik regional yang sudah direkayasa. Sedini mungkin Hersh telah mengingatkan akan sifat konflik yang akan datang, yaitu berbau sekerian. Bahkan Hersh juga menyebut yang (menjadi target) adalah wilayah dihuni oleh penduduk beragama  Kristen yang dilindungi oleh Hizbullah.

Dua tahun sebelumnya, rencana tentang digunakannya kelompok teroris oleh AS dan sekutunya di Timur Tengah, terutama Suriah, telah dibeberkan juga oleh Michael Hirsh dan John Barry untuk Newsweek dalam artikel yang berjudul “The Salvador Option”.

“Pada kenyataannya, ISIS adalah produk dari gabungan NATO-GCC (Gulf Cooperation Council). Sebuah konspirasi yang dimulai pada tahun 2007 di mana pembuat kebijakan AS-Saudi berusaha untuk memicu perang sektarian untuk ‘membersihkan’ Timur Tengah dari pengaruh Iran, menargetkan Suriah dan Irak, Lebanon dan sepanjang pantai Mediterania. ISIS telah dilatih, dipersenjatai, dan didanai oleh koalisi NATO dan negara-negara Teluk Persia dan telah meluncurkan invasi ke Suriah. Bukti nyata, bisa kita lihat dengan serangan di wilayah Kessab yang dilakukan oleh Front Al-Nusra, dengan dukungan penuh dari Turki.”

Cartalucci juga menyebut, invasi lintas batas itu dikoordinasikan oleh NATO, Turki, Israel.  Israel bertindak melalui  serangan udara, dan Turki memfasilitasi para militan untuk melakukan invasi dari perbatasan.

 Persiapan Serangan Udara di Suriah

Meskipun media Barat menyatakan bahwa setiap serangan udara menargetkan ISIS, namun sesungguhnya, serangan itu ditujukan bagi pemerintah Suriah. AS telah membuka peluang agar ISIS menaklukkan Irak, untuk membenarkan invansi AS kepada Irak dengan dalih memerangi ISIS. Setiap pengerahan pasukan AS, baik itu melalui serangan udara, ataupun cara lainnya, jika untuk memerangi organisasi teror, kemungkinan akan mendapat dukungan dari rakyat AS.

Jangan salah, bagaimanapun, kendati setiap tindakan militer baik di perbatasan maupun di dalam wilayah Suriah, sejatinya tidak bertujuan melenyapkan ISIS. Yang benar adalah, aksi militer tersebut sesungguhnya adalah upaya menciptakan “zona penyangga” yang diinginkan NATO pada awal konflik Suriah. Dengan pembentukan ini “zona penyangga”, maka hal ini akan memungkinkan faksi teroris seperti  ISIS dan lainnya untuk melakukan serangan yang lebih dalam di wilayah Suriah.

Tentang Serangan di Pangkalan Militer Taqba

Perlu diingat bahwa ISIS dikendalikan dan diarahkan oleh NATO dan intelijen Barat. Baru-baru ini, ISIS melakukan serangan intensif yang difokuskan pada pangkalan udara Taqba di provinsi Raqqa. Jadi, ketika AS dan NATO melakukan serangan udara, sesungguhnya untuk menargetkan pemerintah yang sah. Serangan udara AS, akan menghancurkan kemampuan pertahanan udara Suriah. Maka AS pun perlu berterimakasih kepada ISIS, karena ISIS ‘berjasa’ dalam proyek penghancuran pertahanan udara Suriah.

Ini adalah tujuan akhir dari serangan ISIS yang begitu gigih mengambil alih Taqba , yaitu bertujuan melenyapkan pertahanan udara Suriah sehingga NATO dapat meluncurkan serangan udara, sekaligus batu loncatan bagi para teroris untuk melakukan serangan lebih dalam ke Suriah.

Dengan video pemenggalan James Foley yang merupakan bagian dari propaganda, semakin membuktikan bahwa ISIS dan organisasi teroris lainnya didanai, diarahkan, dan dilatih oleh AS dan NATO. Penting bagi rakyat AS untuk bersuara dan menentang invasi militer ke Suriah maupun Irak. (ph)

————————-

Brandon Turbeville adalah kolumnis di Globalresearch.ca, yang aktif membongkar berbagai konspirasi AS dan aliansi. Tulisan ini diterjemahkan dari artikel http://www.globalresearch.ca/does-obama-plan-to-announce-the-bombing-of-syria-on-the-eve-of-911-anniversary/5400873

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL