Sumber: Tribunnews.com

LiputanIslam.com,  —Sebagai reaksi atas pembunuhan yang dilakukan AS terhadap Jenderal Qassem Soleimani, Iran merudal pangkalan militer AS di Ain Al-Assad, Al-Anbar, Irak. Akan tetapi, militer AS ternyata tidak membalas serangan Iran itu. Bagaimanakah sebenarnya peta situasi yang terjadi? Bagaimana pula dampak perang itu bagi perimbangan kekuatan kubu-kubu yang berseteru? Berikut ini adalah wawancara tertulis Liputan Islam dengan Direktur Voice of Palestine (VoP), Mujtahid Hashem.

LI: Bagaimana Anda melihat respon AS atas serangan Iran terhadap pangkalan militernya? Kenapa Presiden Trump tidak memberikan respon seperti biasanya?

Mujtahid Hashem (MH): Ya, memang Trump berperilaku tidak seperti biasanya. Kan dia biasanya  gagah dan cepat mereaksi lewat tweeter. Tapi kali ini, publik dunia memang harus menunggu cukup lama briefing Trump di Gedung Putih. Tapi itu adalah tindakan wajar. Gedung Putih memang perlu waktu panjang. Kesalahan dalam mengambil keputusan bisa berakibat fatal bagi dunia. Dan hasilnya, sebagaimana yang kita ketahui bersama, AS urung merespon dengan kekuatan militer dan memilih sanksi ekonomi yang lebih berat terhadap Iran. AS hanya mendorong NATO untuk lebih aktif di Timur Tengah.

LI: Apakah itu juga bermakna AS akan mengurangi pasukannya dari Timur Tengah?

MH: Saya melihat bahwa AS saat ini sedang gamang. Dalam statemennya itu, Trump memang mengisyaratkan akan menarik diri atau paling tidak mengurangi tentaranya secara bertahap dari Timur Tengah. Sebagai justifikasinya, Trump berbicara tentang kemandirian AS dalam hal kebutuhan energi. Jadi, karena AS sudah tak butuh lagi minyak Timur Tengah, tak ada alasan bagi tentara AS untuk berlama-lama lagi di kawasan itu. Kegamangan AS dalam menanggapi krisis ini juga diperlemah karena Zionis Israel dan negara-negara Teluk terlihat melakukan aksi cuci tangan.

LI: Bagaimana dengan Iran? Apakah serangan ke pangkalan militer itu dianggap sudah cukup?

MH: Seperti yang disampaikan oleh Brigjen Haji Amir Ali Zadeh, Divisi Aerospace IRGC dalam konferensi persnya, serangan itu masih belum sebanding nilainya dengan darah Syahid Qassem yang sudah tertumpah. Menurutnya, darah Syahid Qassem tidak bisa ditukar dengan darah pasukan AS, bahkan darahnya Trump. Syahid Qassem hanya sebanding dengan keluarnya pasukan AS dari kawasan. Jadi, sepertinya, Iran akan terus melakukan serangan selama tentara AS bercokol di Timur Tengah.

LI: Dari serangan Iran itu, bisakah tergambar seberapa besar kekuatan militer Iran?

MH: Dari informasi valid yang saya dapatkan, berdasarkan kepada bukti-bukti video dan gambar, dipastikan puluhan tentara AS tewas dan ratusan cedera. Korban serangan tersebut dibawa paling tidak dengan menggunakan 9 pesawat Hercules ke Jordania dan Israel; juga dengan menggunakan beberapa Helikopter Cinook ke rumah sakit AS di Baghdad. Serangan rudal itu juga menghancurkan sejumlah mesin perang dan pusat komando operasi pasukan AS. Menariknya, tak satupun rudal Iran yang bisa diintersepsi oleh sistem pertahanan udara berlapis AS, meski AS juga mengerahkan 12 pesawat pengintai untuk mendeteksi serangan. Lebih dari itu, 15 menit setelah serangan dilancarkan, terjadi perang elektronik yang besar di mana semua pesawat nirawak AS, termasuk RQ-9, tiba-tiba saja keluar dari kendali militer AS. Ini yang menjadi pukulan berat bagi pusat komando pasukan AS.

Jika AS membalas serangan ini, akan ada korban empat hingga lima ribu pasukan AS pada serangan kedua dan ketiga dalam 48 jam. Ratusan rudal siap melesat bersamaan dengan serangan pertama, dan jika konfrontasi terus berlangsung, dalam 3-7 hari, Iran telah menyiapkan ribuan rudalnya.

LI: Apakah rudal-rudal Iran itu punya kemampuan mencapai target dengan presisif?

MH: Saya yakin, bahkan militer AS pun tahu persis kepresisian teknologi rudal Iran. Paling tidak, intelejen militer AS menyaksikan sendiri akibat dari serangan rudal Zulfeqar milik Iran ke basis ISIS di Der Al-Zoer, Suriah. Rudal ini pertama kali digunakan pada tahun 2017 dalam operasi militer “Lailatul Qadr” untuk membalas serangan ISIS ke Gedung Parlemen Iran di Teheran. Ada dua bangunan Markas ISIS di Deir AL-Zoer, dan dua bangunan itu mengapit sebuah masjid. Jika rudal sampai salah sasaran ke masjid, Iran sudah tahu akibat friksi mazhab yang nanti beritanya disebar. Faktanya, rudal Zulfikar tepat menghantam Markas ISIS. Serangan rudal pertama berhasil menembus terowongan. Kebetulan, di sampingnya terdapat tanker bahan bakar; membuat bensin membanjiri terowongan. Rudal kedua tepat menghantam lubang terowongan yang mengakibatkan pasukan ISIS yang berasal dari berbagai negara –termasuk AS– terbakar hidup-hidup di dalam terowongan. Jika Anda tanya warga sipil Deir ez-Zoer, kisah inilah yang  akan Anda dengar.

LI: Ada yang mengatakan bahwa sangat sedikitnya korban di pihak AS menunjukkan kelemahan rudal Iran dalam menarget sasaran. Bagaimana pendapat Anda?

MH: Anda bisa baca, bahkan Scot Ritter, mantan perwira intelegen US Marines, berpendapat bahwa serangan rudal Iran memang sengaja menghindari banyak korban. Sedikitnya korban justru menunjukkan kelebihan teknologi rudal Iran yang bisa diarahkan persis sesuai dengan tujuan operasi militer. Iran sekedar ingin ‘menampar’ Trump dengan mendemonstrasikan teknologi militernya.

LI: Trump mengatakan bahwa motif pembunuhan atas Jenderal Qassem adalah untuk melemahkan kekuatan militer Iran.

MH: Ya, saya juga membaca statemen David Petraeus, mantan perwira satuan United States Central Command dalam wawancara dengan CBS mengatakan. Ia berharap, pembunuhan ini menjadi tonggak membangun kembali elemen detterence menghadapi Iran. Akan tetapi, harapan David Petraeus justru berbanding terbalik dengan realitas yang terjadi. AS malah makin lemah di hadapan Iran. Balasan Iran ke Ain Al-Assad membuat Teheran tidak mungkin dipandang sebelah mata oleh Barat.

LI: Apakah hal ini juga berdampak terhadap kekuatan sekutu-sekutu AS di kawasan Timur Tengah?

MH: Ya, tentu saja. Aksi Iran ini bukan hanya dimaknai sebagai bukti atas lemahnya teknologi pertahanan berlapis AS di salah satu pangkalan terbesarnya, tapi juga membuat Israel harus mengkalkulasi ulang teknologi Iron Dome yang tidak jauh berbeda dengan yang dimiliki oleh AS. Jika teknologi itu tidak di-upgrade, tentu akan menjadi malapetaka bagi Israel ketika –misalnya—terjadi perang dengan Hezbollah, Iran, dan Suriah; juga HAMAS  dan Jihad Islam. Ingat, kelompok-kelompok perlawanan itu juga mendapatkan teknologi rudal dan drone dari Iran.

LI: Selain dimensi militer yang sepertinya dimenangi Iran, dimensi lainnya bagaimana?

MH: Dimensi politik dan etis dari konfrontasi ini juga menempatkan Iran secara moral sebagai pihak yang benar dan menempatkan Trump sebagai bad guys di mata publik internasional. Efek psikologisnya bukan hanya mempengaruhi rakyat Palestina dan Lebanon, melainkan bisa menjalar ke seluruh kawasan, yakni menambah spirit untuk melawan pendudukan Israel. Anda bisa saksikan, Trump sebelumnya melakukan manuver politik dengan mengakui Jerusalem Timur sebagai Ibu Kota Israel dan juga mengakui Dataran Tinggi Golan sebagai bagian dari wilayah Israel. Lalu, Trump juga berinisiatif mengadakan The Deal of The Century yang membuat Israel betul-betul di atas angin. Nah, pasca serangan Iran itu, segala keputusan politik kontroversial Trump menjadi tidak berarti. Serangan Iran ini menjadi pukulan bagi agenda-agenda Zionis Israel

LI: Bagaimana dampaknya terhadap politik domestik AS?

MH: Bagi AS, efek domestik konfrontasi militer kilat dengan Iran ini membelah masyarakat politik lebih dalam. Kemungkinan terdekatnya adalah tumbangnya Trump dalam pemilu presiden. Peristiwa ini juga memukul secara psikologis militer Amerika dan menimbulkan keretakan dari dalam. Paling tidak, ini terlihat dari perseteruan antara komandan militer AS di Irak dengan Pentagon. Keinginan komandan US military’s Task Force Iraq, Brigjen William Seely untuk merelokasi pasukan dari Irak sebelum serangan ditolak oleh Pentagon. Hal yang terbalik justru bisa disaksikan di Iran di Iran, di mana konfrontasi ini justru menguatkan ikatan sosial, politik dan militer di Iran dan aliansi perlawanan di kawasan.

LI: Bagaimana Anda melihat masa depan konfontrasi AS dan Iran ini?

MH: Menurut saya, konfrontasi akan terus berjalan, dan perang asimetris akan terus berkobar. Kedua belah pihak kan mempunyai agenda yang saling menafikan. Bagi Iran, tujuan akhir yang tidak bisa ditawar adalah kemerdekaan bangsa Palestina, sedangkan bagi AS dan Barat, eksistensi Israel adalah taruhannya.

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*