Wacana Penghapusan Syarat Rapid Test Covid untuk Bepergian, Ini Respon Pegiat Wisata

0
175

Jakarta, LiputanIslam.com—Belakangan ini, wacana penghapusan hasil rapid test Covid-19 untuk bepergian menjadi pembicaraan hangat.

Sebelumnya, pemerintah menysaratkan adanya hasil rapid test atau PCR test, atau minimal surat keterangan sehat sebelum bepergian berdasarkan surat edaran Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19.

Mengenai wacana penghapusan syarat ini, para pelaku usaha dan pengamat pariwisata memiliki pandangan yang berbeda. Pegiat pariwisata mendorong wacana penghapusan rapid test sebagai syarat bepergian seperti yang berlaku selama ini.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia atau PHRI Kota Batam, Muhammad Mansyur mengatakan rapid test tidak tepat untuk diterapkan kepada orang yang hendak bepergian. “Karena tidak akurat dan harganya mahal,” katanya. Sebab, calon penumpang harus membayar Rp 85 ribu sampai Rp 150 ribu untuk menjalani dan mendapatkan hasil rapid test Covid.

Menurut dia, yang menjadi perhatian pemerintah semestinya bukan syarat administratif seperti hasil rapid test non-reaktif, melainkan bagaimana menerapkan protokol kesehatan dengan maskimal. “Apa gunanya rapid test tapi setiba di daerah kunjungan, mereka mengabaikan protokol kesehatan,” kata dia.

Pernyataan senada disampaikan oleh Ketua DPD Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia atau ASITA Kepulauan Riau, Andika Lim. Menurut dia, rapid test bisa saja dilakukan untuk orang yang ingin berpergian, tapi dengan syarat biaya ditangung pemerintah. “Memberatkan kalau seperti saat ini karena biaya dibebankan kepada masyarakat,” kata dia.

Andika mengatakan masyarakat sekarang melakukan perjalanan karena kebutuhan, bukan sekadar ingin jalan-jalan. Misalkan, menjenguk kerabat, berpergian karena tugas atau ada keperluan pekerjaan. Ketimbang mensyaratkan hasil rapid test, Andika mengatakan, lebih penting menjaga protokol kesehatan terlaksana dengan maksimal di manapun berada.

Berbeda dengan Muhammad Mansyur dan Andika Lim, pengamat pariwisata Provinsi Kepulauan Riau, Siska Mandalia tidak setuju jika hasil rapid test dicabut sebagai syarat administrasi berpergian. Dosen Batam Tourism Polytechnic atau BTP ini mengatakan selama kurva kasus Covid-19 tinggi, maka syarat ini masih diperlukan untuk memetakan zona penyebaran virus corona.

“Sebab itu, jangan dicabut dulu syarat rapid test untuk bepergian,” kata dosen jebolan Tourism Management dari Chung Hua University, Taiwan. Salah satu prinsip dalam pariwisata, menurut dia, adalah keselamatan. “Lebih bagus, stay home now, travel romorrow.” (ra/tempo)

 

DISKUSI: