Strategi Hotel Tanah Air Hindari PHK Karyawan Akibat Wabah Corona

0
4084

Jakarta, LiputanIslam.com—Wabah virus corona memukul bisnis hotel di seluruh Tanah Air seiring dengan merosotnya pariwisata. Contohnya, tingkat okupansi hotel di di Yogyakarta di bulan April ini berada pada titik terendah. Jika saat low season okupansi paling rendah masih di atas 50 persen, saat dampak wabah muncul awal Maret lalu tingkat hunian tak sampai 10 persen.

Menurut Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY, Deddy Pranowo Eryono pada 5 April 2020, hotel yang bertahan menerima tahun dengan okupansi di bawah 10 persen hanya hotel bintang tiga sampai lima.

Deddy tak menampik hotel non bintang akibat wabah virus corona, mereka memilih meliburkan diri sementara beserta segenap karyawannya. Daripada harus menanggung beban operasional terlalu besar, sementara kunjungan wisata nyaris tidak ada sama sekali.

“Kami belum mengetahui persis berapa banyak karyawan hotel yang dirumahkan,” ujarnya. Untuk hotel yang masih bertahan beroperasi, Deddy mengatakan sebagian besar menempuh dua cara demi menghindari pemutusan hubungan kerja (PHK) massal.

“Untuk hotel yang beroperasi, mereka membuat sistem kerja bergiliran untuk karyawan dan mengurangi jumlahnya di tiap shift,” ujarnya.

Sistem kerja bergiliran itu dengan mengatur waktu kerja para karyawan. Seperti 15 hari kerja, 15 hari libur. Jumlah karyawan tiap shift juga dipangkas separonya saja dari durasi kerja biasa.

Dengan pola kerja karyawan itu, hotel yang masih tetap beroperasi akhirnya harus membuat sistem tidak bebas menerima tamu seperti biasanya. Melainkan hanya berfokus pada layanan reservasi.

Dengan sistem reservasi ini, kemudian beberapa hotel merancang produk menyesuaikan masa pandemi. Seperti lahirnya paket-paket karantina ekslusif.

Cara kedua, demi menghindari PHK massal itu, hotel-hotel mencari pemasukan selain dari tamu yang menginap. Mereka mulai melayani jasa di luar hotel seperti restoran, laundry sampai jualan camilan dengan konsep pesan antar.

Public Relations Manager Grand Inna Malioboro Retno Kusuma mengatakan, pihaknya selama masa pandemi ini menyediakan layanan antar gratis menu makanan olahan hotel — yang biasanya disediakan via Malioboro Coffee Shop yang menjadi lini usaha hotelnya.

Dengam harga mulai Rp35.000-55.000, masyarakat bisa memesan berbagai menu olahan hotel itu seperti nasi campur khatulistiwa, gudeg, pindang serani, iga bakar, sop buntut, soto ayam, rawon Surabaya, nasi goreng, gado-gado hingga burger.

Grand Inna Malioboro juga menyediakan variant cookies untuk persiapan lebaran mulai dari harga Rp 25.000 dengan minimal order lima kemasan gratis pengantaran. Retno mengatakan hotelnya juga menawarkan jasa laundry mulai Rp 15.000 per kg dengan gratis antar jemput minimal 10 kg.

Adapun hotel di Jakarta menawarkan promo khusus di masa Covid-19 antara lain Swissbel-Hotel dan Hotel Aryaduta Jakarta. Swissbell-Hotel Jakarta dan Bali dalam laman resminya memiliki tiga promo khusus bagi konsumen yang ingin menyewa kamar dengan tarif murah selama masa penanganan pandemi corona, yaitu Quarantine Package, Stay Longer Package, dan Stay Relax Package.

Sementara Hotel Aryaduta meluncurkan promo penyewaan kamar untuk konsumen yang ingin melakukan isolasi mandiri. Paket dengan nama Comfort In Self-Isolation tersebut dibanderol dengan harga Rp 850 ribu per hari. Menurut Presiden Aryaduta Hotel Group, Greg Allan, promo ini ditujukan bagi konsumen yang ingin menjadikan kamar hotel sebagai tempat karantina mandiri.

Kata dia, paket ini menjamin konsumen tak akan berinteraksi dengan tamu dan pegawai hotel. Konsumen tetap mendapatkan makanan tiga kali sehari dan tinggal di ruangan yang telah dibersihkan secara khusus. (ra/tempo)

 

DISKUSI: