LiputanIslam.com – Narasi berikutnya yang disampaikan kubu Zionis adalah sebagai berikut.
“Militer Israel sangat baik hati. Buktinya, sebelum menyerang sasaran tertentu, mereka memberikan peringatan kepada warga di sekitar objek yang akan diserang. Bahkan, dalam kasus Perang Gaza tahun ini, Israel meminta warga sipil Gaza untuk mengungsi ke pinggiran kota, supaya tidak menjadi ‘korban ikutan’ (collatoral damage) dari serangan militer terhadap milisi Palestina.”
Narasi seperti ini adalah contoh dari standar ganda yang selama ini dipakai oleh Zionis dan sekutu terdekatnya, AS. Standar ganda artinya adalah penggunaan standar dan parameter rasional yang berbeda ketika objek yang dinilainya berbeda. Dalam silogisme yang dikenal pada ilmu logika, “standar” disebut sebagai premis mayor, sedangkan objek yang diukur menjadi premis minor.
Contoh yang biasa dikemukakan adalah silogisme berikut ini.
1. Semua manusia pasti akan mengalami kematian (premis mayor)
2. Plato adalah manusia (premis minor)
3. Plato pasti akan mengalami kematian.
Pada silogisme di atas, premis mayor menjadi standar untuk menilai Plato, apakah dia akan mengalami kematian atau tidak. Nah, bayangkan kalau tidak ada kepastian dari premis mayor. Bayangkan kalau premis mayornya berubah-ubah, bergantung kepada objeknya. Misalnya, dikatakan bahwa manusia bisa mengalami kematian atau bisa juga abadi di dunia ini, bergantung kepada objek manusianya. Jika yang dinilai adalah Plato, berlaku standar tertentu. Tapi, jika objeknya Aristoteles (atau manusia lainnya), premis mayornya berubah. Dalam situasi seperti itu, terjadi kekacauan berpikir yang sangat elementer.
Dalam konteks narasi kubu Zionis (dan AS) yang sedang kita bicarakan ini, kita melihat bahwa alur silogisme yang mencoba dibangun adalah sebagai berikut.
1. Setiap serangan yang diawali dengan peringatan adalah serangan yang baik (mayor).
2. Serangan Israel selalu didahului dengan peringatan (minor).
3. Serangan Israel adalah serangan yang baik (kesimpulan).
Masalahnya, Zionis dan AS punya standar (premis mayor) yang lain, ketika yang melakukan serangannya bukan Israel. Dalam konteks operasi militer Rusia terhadap Ukraina, misalnya, Rusia selalu mengawali berbagai serangannya dengan memberi peringatan kepada Ukraina. Faktanya, dalam kasus konflik Rusia-Ukraina, AS dan Israel memiliki standar (premis mayor) yang lain, yaitu bahwa serangan apapun, jika itu dilakukan terhadap wilayah negara lain, dinilai sebagai agresi brutal yang sangat buruk.
Artinya, jika objek yang dinilai adalah Rusia, parameternya adalah sesuatu. Tapi, ketika yang dinilai adalah Israel, agresi brutal itu berubah menjadi serangan yang baik hati. Benar-benar logika yang kacau!(os)