LiputanIslam.com – Narasi lain yang dikemukakan kubu Zionis Israel adalah sebagai berikut.
“Kalau saya jadi orang Israel, ketika saya diusik dan diserang, pasti saya akan membalas dengan balasan yang lebih mematikan. Kenapa? Karena kami bisa melakukan pembalasan; karena kami punya senjata dan kekuatan. Serangan yang lebih mematikan juga diperlukan sebagai pelajaran supaya orang-orang Palestina tidak lagi kurang ajar dan bersikap tahu diri. Sudah tahu kekuatannya tidak seberapa, kok berani-beraninya melawan.”
Narasi seperti ini juga disampaikan untuk menyalahkan para pejuang Palestina, serta menempatkan warga sipil Israel sebagai korban. Kemudian, militer Israel tampil sebagai patriot yang membela warga sipilnya.
Narasi seperti ini, di satu sisi, menunjukkan kesalahan berpikir non-causa pro-causa. Berbagai aksi para pejuang Palestina selalu ditempatkan sebagai sebab, dan tindakan militer Israel sebagai reaksi (akibat). Padahal, kalau dilihat secara seksama, aksi para pejuang Palestina itu justru merupakan reaksi atas berbagai tindakan Zionis Israel.
Di sisi lain, di balik narasi di atas, kita menemukan adanya penggunaan “logika kekuatan”, alih-alih “kekuatan logika” oleh kubu Zionis Israel. Di sini, yang muncul adalah alasan “strategis” terkait dengan isu apakah sebaiknya militer Israel menindak serangan pejuang Palestina atau membiarkannya.
Memang, jika yang dibicarakan adalah masalah strategis, sangat wajar kalau Zionis melakukan pembalasan, karena mereka memang punya kekuatan senjata jauh di atas pejuang Palestina. Akan tetapi, yang sedang menjadi isu pembicaraan adalah masalah substantif, terkait dengan siapa Zionis, siapa Palestina, dan kenapa kedua pihak sampai terlibat pertikaian; bukannya perbandingan kekuatan militer kedua pihak. (os)