Penyumbang Sampah Plastik Terbesar Kedua Dunia, Daur Ulang Sampah Plastik Indonesia Masih Rendah

0
262

LiputanIslam.com–Indonesia sebagai penyumbang sampah plastik terbesar nomor dua di dunia setelah Tiongkok, yaitu sebesar 11 juta kilogram per hari. Meski begitu, pengelolaan sampah plastik masih rendah, tanggung jawab perusahaan terhadap sampah-sampah mereka pun minim. Dari 11 juta kilogram sampah plastik, yang berhasil dikelola secara baik hanya sebesar 2 juta kilogram per hari. Masih ada sisa 9 juta kilogram sampah per hari yang terus menumpuk di tempat pembuangan akhir.

Data IPR, total konsumsi plastik mencapai 5.66 metrik ton, didaur ulang hanya 1.80 metrik ton.

“Ada lebih dari 380 TPA di Indonesia setidaknya 8.200 hektar yang sebagian akan atau sudah penuh,” kata Dini Trisyanti, Direktur SWI dalam temu media di Jakarta, pekan lalu.

Mengutip riset J Jambeck yang menyatakan, Indonesia sebagai penghasil sampah plastik terbesar kedua di lautan, kata Dini, bukan berarti Indonesia pengguna plastik terbesar kedua di dunia. Namun manajemen sampah plastik salah. Sehingga penting untuk mengurangi sampah terbuang ke lingkungan sekitar dengan meningkatkan akses pelayanan sampah rumah tangga perkotaan, daerah pinggiran dan kepulauan termasuk kota kecil atau menengah.

Lalu apa yang harus dilakukan?

Dini menyarankan agar ada circular economy (ekonomi sirkular) untuk mengatasi masalah sampah plastik. Secara singkat, ekonomi sirkular membuat siklus antara produksi, konsumsi dan daur ulang hingga tak ada sampah seperti di Amerika Serikat. Meski penggunaan sampah plastik di negara tersebut tinggi, namun daur ulang nya pun tinggi sehingga tidak ada sampah plastik yang menumpuk.

Menurut Dini, Ekonomi sirkular mampu mengurangi ekstraksi sumber daya alam, menambah lapangan kerja, meningkatkan ekonomi langsung dan tak langsung, mengurangi sampah ke TPA dan meningkatkan kualitas lingkungan.

Ekonomi sirkular dapat meningkatkan daur ulang yang akan menghentikan 40% sampah plastik berakhir di TPA. Juga memberi pekerjaan kepada lebih dari 400.000 orang. Terlebih, dapat mengamankan lebih dari 200 hektar lahan pertahun untuk jadi TPA.

Mengutip data Ikatan Pemulung Indonesia (IPI), peluang kerja informal sektor ini cukup besar.

Pemulung di Jakarta, sekitar 25.000 orang, 7.000 di Bantar Gebang. Jumlah tenaga kerja terserap di sektor daur ulang plastik, formal bisa 100.000, dan informal 3,3 juta jiwa.

Selain melalui Ekonomi sirkular, perusahaan yang menggunakan kemasan plastik pun harus dituntut untuk bertanggungjawab terhadap sampah yang mereka hasilkan.

Misalnya produk minuman Coca Cola. Mereka mempunyai komitmen global menciptakan food without waste pada 2030. Di Australia, perusahaan Coca Cola sudah menunjukkan upaya tanggung jawab terhadap sampah-sampah yang mereka hasilkan. Pada kemasan minuman, perusahaan ini mencantuman keterangan, bagi yang mengembalikan kemasan akan mendapatkan kembalian A$10 Cent, atau point. Namun di Indonesia, perusahaan ini belum menerapkan hal serupa.

Perusahaan lain di Australia, juga lakukan hal serupa. Upaya-upaya produsen atau perusahaan lebih bertanggung jawab terhadap sampah-sampah mereka, mesti lebih didorong lagi di Indonesia.

Baca juga: Solusi Masalah Sampah: Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa). Amankah?

Indonesia dengan penduduk sekitar 269 juta jiwa berperan penting dalam mempercepat penerapan circular economy terutama di Asia.

Daur ulang plastik di Indonesia sebenarnya sudah mulai sejak 1970-an. Daur ulang plastik didominasi sektor informal yang berkembang secara mandiri. daur ulang plastik punya imej buruk karena kualitas rendah, kotor, bau dan dinilai murah. Karena itu, katanya, penting ada edukasi masyarakat mengubah pandangan terhadap pendaur ulang plastik di Indonesia dan peran circular economy. (Ay/Mongabay)

DISKUSI: