Mengenal Ponpes Berwawasan Lingkungan di Cilacap

0
375

Sumber: Mongabay

LiputanIslam.com — Di wilayah Kedungreja, Cilacap, Jawa Tengah (Jateng), terdapat Pondok Pesantren Rubat Mbalong Ell Firdaus yang dikenal sebagai ponpes berwawasan lingkungan dan kemandirian.

Ponpes tersebut berhasil mengelola hampir seluruh sampah organik dan anorganik. Untuk sampah anorganik yang terdiri dari plastik, dikumpulkan untuk membuat ecobricks. Sampah plastik dimasukkan ke dalam botol bekas air mineral. Setelah jadi ecobricks, maka bisa dimanfaatkan untuk membuat tempat duduk dan pembuatan tembok. Jadi ternyata sampah bisa berubah jadi berkah.

Sedangkan untuk sampah organik, seperti sisa sayuran dan buah-buahan, dimanfaatkan sebagai pakan magot (black soldier fly/Hermetia illucens) yang dibudidayakan oleh pihak Ponpes Ell Firdaus tersebut.

Magot atau BSF merupakan jenis lalat paling beda. BSF adalah lalat yang tidak bersifat patogen karena tidak membawa agen penyakit seperti jenis lalat lainnya.

Lalat tersebut dapat melakukan penguraian sampah-sampah organik tanpa menimbulkan bau. Inilah hebatnya, karena biasanya sampah organik menimbulkan bau. Tetapi kalau diproses oleh magot, tidak memunculkan bau yang tak sedap.

Baca juga: Melihat Upaya Mengubah Sampah Jadi Mainan di Yogyakarta

Berdasarkan riset, 1 kg magot mampu mengkonsumsi dan menguraikan 1 kg sampah organik. Sampah yang sudah terurai oleh magot bisa langsung digunakan untuk pupuk tanaman. Pupuknya jelas organik yang sangat ramah lingkungan.

Pupuk merupakan salah satu usaha kemandirian yang dibentuk di ponpes tersebut. Usaha lainnya adalah pembuatan bibit tanaman, budidaya sayuran serta lele serta ternak. Hampir di setiap jengkal tanah di Ponpes tersebut, dijadikan tempat untuk budidaya. Sebagai pengelolanya adalah para santri. Karena sebagian besar santri masih bersekolah, maka mereka mengurus sepulang sekolah. Namun, bagi yang telah lulus, mereka mengurus usaha dari pagi sampai sore. Pada malam harinya, baru mereka belajar agama. Jadi, Ponpes Ell Firdaus tidak sebatas mengajarkan ilmu agama, melainkan juga kewirausahaan.

Pendiri sekaligus Pimpinan Ponpes Rubat Mbalong Ell Firdaus, Muhamad Achmad Hasan Mas’ud atau biasa dipanggil Gus Hasan mengungkapkan kalau Ponpes yang dipimpinnya tidak hanya membekali para santri dengan ilmu agama saja, melainkan juga kewirausahaan.

“Di Ponpes Ell Firdaus, kami mendirikan beragam unit usaha. Bahkan, sejumlah unit usaha sangat mempedulikan lingkungan, dengan mengelola sampah baik organik maupun anorganik serta pertanian ramah lingkungan. Kami sengaja membangun unit-unit usaha, salah satunya untuk kemandirian Ponpes. Apalagi, saat ini ada 250-an santri yang terdaftar di Ponpes Ell Firdaus,” jelasnya.

Ia mengatakan sejak awal mendirikan Ponpes Ell Firdaus memang telah berangan-angan menjadikannya tidak saja sebagai pusat pendidikan agama, melainkan juga sebagai tempat belajar berwirausaha.

“Kami memulai usaha, salah satunya adalah budidaya lele dan pertanian organik. Dalam perkembangannya, Kantor BI Perwakilan Purwokerto mengajak kerja sama dalam KRPL yang kemudian berkembang menjadi usaha pembibitan sampai sekarang. Kemudian ada program lanjutan seperti membangun rumah jamur serta pengembangan kandang ternak dan biogas. Sejak tahun 2018 lalu hingga sekarang, bersama BI Purwokerto mengembangkan tepung mocaf (modified cassava flour/tepung singkong modifikasi) dengan bahan baku singkong,” ujarnya.

Tepung mocaf dikembangkan karena pasarnya terbuka dan dapat memfasilitasi petani singkong yang ada di sekitar Cilacap. Saat ini, Ponpes Ell Firdaus membutuhkan sekitar satu ton singkong setiap bulannya yang menghasikan sekitar satu kuintal tepung mocaf. Tepung mocaf tersebut kemudian dibungkus dengan berat 0,5 kg seharga Rp8.000 dan 1 kg seharga Rp15.000. Para petani singkong juga terdongkrak pendapatannya, karena harga singkong yang sebelumnya Rp1.000/kg dapat meningkat menjadi Rp1.500/kg. Tahun ini, BI dan Ponpes Ell Firdaus mengembangkan demplot singkong guna meningkatkan jumlah bahan baku mocaf. (Ay/Mongabay)

DISKUSI: