Mengaku Negara Berideologi Sosialisme?

0
390

LiputanIslam.com – Ada sebuah istilah yang selalu menjadi sumber kontroversi, yaitu sosialisme. Apa itu sosialisme? Sosialisme adalah sebuah ideologi yang memberikan penekanan pada pemerataan sumber kekayaan negara untuk seluruh rakyatnya. Aplikasi dari ideologi sosialisme sangat bervariasi dan unik di setiap negara. Negara-negara Skandinavia menerapkan model Nordik (model yang menerapkan tingkat pajak tinggi hingga 60 persen untuk menyediakan fasilitas dasar gratis dan berkualitas tinggi. Di Kuba menerapkan model lain (berbagai kegiatan ekonominya dilakukan melalui intervensi langsung pemerintah untuk mempertahankan kepemilikan rakyat atas kekayaan negara mereka sendiri).

Sosialisme berusaha mengklaim hasil kekayaan untuk didistribusikan kepada orang-orang secara adil. Pendistribusian bisa berupa fasilitas seperti rumah sakit, pendidikan, transportasi publik, dan sistem kesejahteraan masyarakat. Semua fasilitas harus dapat diakses secara mudah dan luas, biaya rendah, dan kualitas tinggi. Sosialisme juga menjadikan tanggung jawab pemerintah untuk melindungi kepentingan rakyat jelata dari penindasan para elit kaya.

Dalam sosialisme, pemerintah juga harus memberdayakan rakyatnya dengan membentuk serikat pekerja atau serikat pegawai yang bisa mengatur diri mereka sendiri melalui diskusi, kampanye, dan demonstrasi jika terjadi penindasan terhadap pekerja atau pegawai.

Sosialisme juga mementingkan perlindungan sumber daya alam yang merupakan warisan berharga agar tidak dihancurkan oleh kalangan tertentu untuk meraup keuntungan sebanyak-banyaknya.

Mengapa kita membutuhkan sosialisme? Pertama-tama, kita harus memahami ideologi yang menentangnya yaitu kapitalisme. Kapitalisme adalah ideologi yang mementingkan kepentingan individu untuk memperbesar kekayaannya sendiri. Kapitalisme memandang bahwa setiap individu dilahirkan sama dan memiliki kebebasan dengan cara mereka sendiri. Pengertian ini terdengar baik dan sehat, namun sejatinya menyembunyikan beberapa hal yang penting. Kita harus memahami bahwa kondisi kehidupan seseorang tidak sama dengan yang lain. Ada yang terlahir kaya dan ada yang terlahir miskin. Ada yang terlahir cacat dan ada yang harus berhenti bekerja untuk menjaga keluarganya.

Kapitalisme sejatinya tidak terlalu peduli dengan perbedaan. Sebagai contoh, banyak negara kapitalis yang memiliki program kesejahteraan untuk rakyatnya yang membutuhkan bantuan. Di Australia, terdapat sistem kesejahteraan untuk membantu rakyat pengangguran. Namun perusahaan besar memanfaatkan sistem tersebut untuk membuat aturan pekerjaan tidak tetap dan kontrak jangka pendek. Pekerjaan tersebut pun sering di bawah gaji pegawai tetap namun beban kerjanya sama atau bahkan lebih berat daripada pegawai tetap. Hal ini membuat yang seharusnya menjadi solusi pemerintah kepada rakyat pengangguran justru bukan sebuah solusi. Persoalan ekonomi yang ingin diselesaikan pun menjadi terlupakan. Alih-alih sistem tersebut justru membantu pengusaha yang sudah kaya menjadi semakin kaya. Ini adalah kekeliruan dari sistem kapitalisme. Dalam menekankan keuntungan individu, konsep ketimpangan sosial dilupakan, sehingga kesenjangan antara si kaya dan si miskin terus melebar. Program-program kesejahteraan hanya berjangka pendek dan gagal memecahkan persoalan utama kemiskinan, yaitu penindasan si miskin oleh si kaya. Sementara orang kaya menjadi lebih kaya dan orang miskin dipandang sebagai pemalas.

Saat ini, sebagian besar pemerintah dunia cenderung kapitalistik, lebih mementingkan keuntungan warga negara mereka yang kaya. Logikanya adalah bahwa orang kaya akan menciptakan banyak pekerjaan untuk rakyat jelata. Keuntungan dari orang kaya pun disalurkan kembagi ke negara, sehingga mempercepat ekonomi lokal. Namun kenyataannya, keuntungan tersebut sebagian besar diambil dan disimpan oleh pengusaha, biasanya dibekukan di dalam rekening di luar negeri. Dan ini hampir tidak bisa dilacak. Akhirnya, pegawai yang bekerja keras dalam menghasilkan keuntungan hanya memperoleh gaji yang sedikit. Ketika ditanya tentang ketidakadilan, pengusaha akan menjawab bahwa pegawai mereka tidak produktif, malas, atau tidak pantas menerima gaji lebih tinggi karena kurang keterampilan dan keahlian.

Pemerintah kemudian harus menaikkan pajak untuk barang-barang pokok seperti makanan, pakaian, dan perlengkapan kebersihan untuk menopang perekonomian negara. Tekanan hidup sehari-hari yang diderita oleh rakyat jelata hanya dipecahkah dengan menggunakan berbagai program bantuan pemerintah yang hanya bisa meringankan beban jangka pendek. Sistem dan struktur yang dibutuhkan untuk menyelesaikan persoalan sampai ke akarnya dibiarkan dan dilupakan begitu saja.

Serikat pekerja atau serikat pegawai dibentuk untuk menuntut kondisi kerja yang lebih baik. Persoalan seperti gaji, jumlah hari cuti, kompensasi total saat pemutusan hubungan kerja dan fasilitas infrastruktur tempat kerja dapat diminta jika ada serikat pekerja yang kuat. Di negara-negara kapitalis, kekuatan dan pengaruh serikat buruh pun dikendalikan, bahkan tidak diberdayakan lagi sehingga mereka tidak lagi memiliki keinginan untuk menuntut hak-hak mereka dan terpaksa bekerja paruh waktu untuk mendapatkan penghasilan tambahan. Banyak pekerja dipaksa untuk menghabiskan terlalu banyak waktu untuk memenuhi kebutuhan hidup, alih-alih menikmati hasil kerja mereka.

Selain itu, pajak orang kaya pun dikurangi karena mereka mengancam akan merelokasi perusahaan mereka ke negara lain jika pajak mereka tidak dikurangi. Pemerintah kemudian mengambil sikap mudah untuk mematuhi saja aturan yang diminta oleh elit kaya sehingga mengakibatkan penindasan terus-memerus terjadi terhadap rakyat jelata.

Jadi kita telah melihat bagaimana kebijakan kapitalis dengan jelas menindas rakyat. Sosialisme adalah ideologi yang dapat dengan mudah digambarkan sebagai ideologi yang memiliki sistem kesejahteraan rakyat. Karena itu, sosialisme dapat memastikan bahwa kekayaan negara didistribusikan secara adil dan menghentikan penindasan terhadap orang kaya. Faktanya, negara kapitalis yang mencoba untuk menggaungkan sosialisme sama saja. (Ay/Arveent Kathirtchelvan/Malay Mail)

*Disadur dan diterjemahkan dari Malay Mail

DISKUSI: