Melihat Upaya Mengubah Sampah Jadi Mainan di Yogyakarta

0
219

Sumber: Mongabay

LiputanIslam.com — Di Yogyakarta, terdapat sebuah aktivitas bermanfaat untuk lingkungan bernama scratch building (merakit sampah barang-barang bekas menjadi sesuatu yang baru dan bermanfaat). Aktivitas ini bisa menjadi sarana untuk mengkampanyekan zero waste.

Zero waste adalah gerakan mendorong perilaku pemanfaatan sumberdaya dalam siklus tertutup hingga semua produk bisa bermanfaat lagi. Tidak ada sampah dari proses itu yang berakhir di tempat pembuangan sampah.

Seorang penghobi sekaligus instruktur scratch building dari Yogyakarta bernama Bibit Kadar Susilo jadikan kegemaran ini untuk media kampanye pemanfaatan barang bekas agar tak berakhir di tempat pembuangan sampah.

Sebagai hobi, scratch building terbilang baru di Indonesia. Ini hobi buat orang kreatif, tekun, teliti, dan punya imajinasi tinggi. Scratch building dengan kata lain bisa berarti membangun model menggunakan bahan-bahan yang dibuat sendiri. Entah dari plastik, kertas, kayu, logam, semen, bahan lain atau campuran. Model yang dibangun, misal, robot, pesawat ulang-alik, atau stasiun kereta api.

Kini ia sedang menekuni kampanye tersebut di depan anak-anak untuk belajar mencintai lingkungan dengan cara daur ulang sampah menjadi kreasi mainan yang indah.

Sampah berupa barang-barang bekas itu diubah jadi bahan baku untuk membangun mainan. Barang yang dianggap tak berguna seperti botol susu, ballpoint, sikat gigi, sendok plastik, mouse, keyboard rusak, di tangan anak-anak bisa jadi mainan apapun yang mereka mau.

Dengan cara itu, Sillo, panggilan akrabnya berharap bisa menanamkan perilaku reuse, reduce, recycle kepada anak-anak.

“Sekarang mereka tidak melihat itu sebagai sampah, tetapi bahan baku. Jadi mereka tidak akan membuang itu. Saat mereka membeli sesuatu mereka tidak membuang wadahnya, imajinasi mereka akan tumbuh jadikan bahan baku itu jadi apa.”

Baca juga: Nikah Minim Sampah Plastik Ala Bali

Dia yakin, kalau anak kenal dengan hobi yang menantang kreativitas dan disukai anak, maka «mereka akan meneruskan kegemaran itu hingga dewasa.

Selain mengajarkan bagaimana merangkai bahan bekas jadi bentuk baru, Sillo selalu menyisipkan bahaya pengelolaan sampah tak tepat. Dengan menyajikan data dan fakta terkait sampah dalam bahasa sederhana, termasuk memanfaatkan banyak gambar, dia berharap anak-anak mudah menangkap pesan untuk menjaga lingkungan.

Aktivitas tersebut tentu sangat bermanfaat mengingat daur ulang sampah di Indonesia masih rendah. Apalagi Indonesia menjadi negara kedua penghasil sampah terbanyak di dunia, setelah China. Pada 2019 ini Indonesia akan menghasilkan sampah sekitar 66-67 juta ton atau meningkat tiga juta ton dari tahun-tahun sebelumnya yang mencapai 64 juta ton.

Sebagian besar sampah yang dihasilkan ini berasal dari sampah rumah tangga hingga kegiatan usaha. Diperkirakan hanya 40 hingga 60 persen sampah yang dapat terangkut ke tempat pembuangan akhir, sisanya terbuang sembarangan. (Ay/Mongabay/Republika)

DISKUSI: