Liputan Islam

Tajam, Berimbang, Terpercaya

  • Fokus
  • Internasional
    • Amerika – Eropa
    • Asia – Afrika
    • Timur Tengah
  • Nasional
    • Indonesiana
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
    • Analisis
    • Tabayun
    • Pemikiran
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
Notification Show More
Font ResizerAa

Liputan Islam

Tajam, Berimbang, Terpercaya

Font ResizerAa
  • Fokus
  • Internasional
  • Nasional
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
  • Fokus
  • Internasional
    • Amerika – Eropa
    • Asia – Afrika
    • Timur Tengah
  • Nasional
    • Indonesiana
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
    • Analisis
    • Tabayun
    • Pemikiran
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
Follow US
Pemikiran

Melihat Fenomena Ular Kobra Masuk Rumah

Published 19/12/2019 5 Min Read
Share
5 Min Read
SHARE
Sumber: Liputan6

LiputanIslam.com — Berdasarkan data World Health Organization (WHO), setiap tahun, sekitar 2,7 juta orang di dunia digigit ular berbisa. Diperkirakan, sebanyak 81 ribu hingga 138 ribu jiwa meninggal dunia dan 400 ribu orang mengalami cacat tubuh.

Di awal musim penghujan ini adalah waktu dimana telur ular menetas. Fenomena ditemukannya puluhan anak ular kobra di permukiman warga, mulai Bogor, Depok, Bekasi, Purwakarta, Jakarta Timur, Klaten, dan Yogyakarta memang meresahkan dan membuat was-was masyarakat.

Telur-telur tersebut, biasanya menetas tiga hingga empat bulan. Telur, diletakkan di lubang-lubang tanah atau di bawah serasah daun kering yang lembab. “Awal musim penghujan adalah waktu menetas. Fenomena ini wajar, dan merupakan siklus alami,” terang Amir Hamidy, Peneliti Reptil Pusat Penelitian Biologi LIPI.

Menurut Amir, hampir semua jenis ular, termasuk induk kobra pada periode tertentu, akan meninggalkan telur-telurnya, hingga menetas sendiri. “Begitu menetas, anakan kobra ini segera menyebar,” ujarnya.

Ular kobra atau yang kita kenal dengan nama ular sendok merupakan jenis berbisa dari suku Elapidae. Digelari ular sendok, karena ia dapat menegakkan dan memipihkan lehernya alias melengkung seperti sendok. Bentuk tersebut ditunjukkan bila ia terganggu, atau merasa terancam akan kehadiran musuh. Pastinya, kobra memiliki kemampuan meyemprotkan bisa [venom].

Kobra biasanya melumpuhkan mangsa dengan menggigit, lalu menyuntikkan bisa melalui taring. Bisa tersebut melumpuhkan saraf dan otot mangsa hanya dalam beberapa menit. Gigitannya mematikan dan dapat menyemburkan racun dengan tepat sejauh dua meter.

Di Indonesia, kasus gigitan ular berbisa masih tinggi. Bahkan, menempati urutan ke dua setelah HIV/AIDs dan kanker. Menurut World Health Organization (WHO), ada 5 juta kasus gigitan ular di dunia per tahun. Sekitar 2,7 juta digigit ular berbisa. Sebanyak 81.000-138.000 gigitan ular menyebabkan kematian, dan 400.000 kecacatan.

Menurut Aji Rachmat, dari Sioux Ular Indonesia (yayasan yang mendedikasikan pada edukasi dan penyelamatan ular), jika bertemu ular, cukup lakukan STOP (silent, thinking, observation dan prepare). Jangan panik, atau malah memprovokasi.

Empat langkah itu dijabarkan sebagai bersikap mematung, sambil meneliti apakah berbisa atau tidak, memperhatikan lingkungan sekitar dan mencari alat bantu, serta mempersiapkan langkah lanjutan.

Baca juga: Dampak Karhutla, Indonesia Rugi Rp 72,95 Triliun

Pada Kamis, 23 Mei lalu, WHO mengumumkan langkah global mengurangi kasus gigitan ular yang selama ini dianggap neglected tropical desease (NTD), atau penyakit tropis yang terabaikan. Sehari berikutnya, kata Tri Maharani, Indonesia sebagai anggota WHO membuat resolusi serupa untuk Indonesia.

Menurutnya, obat tradisional tidak bisa mengeluarkan venom (bisa) di tubuh. Apalagi pakai batu hitam, keris, tidak bisa. Disilet, dihisap, atau diikat juga tidak bisa. Justru yang diikat sering kemudian harus diamputasi.

Menurut dia, WHO punya riset panjang sebelum akhirnya menemukan, venom tidak lewat pembuluh darah, tetapi melalui kelenjar getah bening. Jadi, dengan mengeluarkan darah dari luka gigitan atau mengikat dengan asumsi mencegah venom menyebar akan sia-sia.

“Caranya, lebih sederhana, yaitu dibuat tak bergerak. Otot yang bergerak hanya akan mempercepat reaksi. Dulu, efek gigitan ular dibuat empat grade. Kini, WHO hanya dua, yaitu fase lokal dan sistemik. Kalau fase lokal masih bisa diselamatkan dengan imobilisasi. Fase lokal itu tanda-tandanya bengkak di daerah gigitan, nyeri, dan pembengkakan kelenjar getah bening.”

“Kalau sudah sistemik, yaitu merusak organ, misal, gagal ginjal, gagal napas, gagal jantung, harus memakai antivenom.”

Jadi, katanya, jika tergigit ular berbisa, pertolongan pertama menurut WHO, pertama, pindahkan korban ke tempat aman. Kalau ular masih menggigit, usir ular dengan kayu. Kalau tergigit ular laut, korban dipindah ke daratan agar tak tenggelam. Lepaskan perhiasan sekitar luka gigitan seperti cincin, gelang, jam tangan, kalung yang bisa menyebabkan luka baru karena pembengkakan.

Kedua, imobilisasi korban atau dibuat tidak bergerak sepenuhnya. Lalu ditandu untuk segera dibawa ke tempat layanan kesehatan. Jangan pakai torniquet. Mengikat dengan kain medis disarankan hanya oleh tenaga kesehatan. Hindari mengobati dengan jamu, cara tradisional, bahkan klenik yang tak terbukti menolong. Bisa ular, katanya, adalah protein yang hanya bisa ditawar dengan serum anti bisa ular. (Ay/Mongabay/Liputan6)

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp LinkedIn Telegram
What do you think?
Love0
Cry0
Sad0
Happy0
Angry0
Dead0
Wink0

Latest News

Get Started
Intelijen AS Bantah Klaim Trump tentang Iran Garap ICBM

London, LiputanIslam.com –     Intelijen AS tidak mendukung klaim Presiden AS Donald Trump…

Menlu Iran Nyatakan Ada Kemajuan dalam Pembicaraan dengan AS

Teheran, LiputanIslam.com –     Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa…

Pemimpin Yaman: Normalisasi Meningkatkan Biaya Pengalahan Israel

Teheran, LiputanIslam.com –     Pemimpin gerakan perlawanan Ansarullah Yaman, Sayyid Abdul-Malik al-Houthi, memperingatkan…

Iran Sampaikan Usulan kepada AS, Ujian bagi Kesungguhan AS

Jenewa, LiputanIslam.com –   Sumber media di Jenewa, Swiss, mengkonfirmasi bahwa beberapa laporan…

Tentara Iran Tegaskan akan Terus Bertahan di Medan Laga Hingga Titik Darah Penghabisan

Teheran, LiputanIslam.com –   Komandan Angkatan Darat Iran, Brigjen Ali Jahanshahi, menegaskan bahwa…

Jihad Islam Palestina Sebut BoP Panggung Sandiwara di Gaza

Gaza, LiputanIslam.com –   Wakil Sekjen Gerakan Jihad Islam Palestina (PIJ), Muhammad al-Hindi,…

The Financial Times: Pengerahan Pasukan ke Timteng Blunder bagi Trump

London, LiputanIslam.com –   Surat kabar Inggris TheFinancial Times menganalisis detail dan penilaian…

Ketua Parlemen Iran: AS akan Merasakan Balasan Telak Jika Nekat Menyerang Iran

Teheran, LiputanIslam.com –   Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf memperingatkan bahwa semua…

Israel Kuatir Dikhianati AS terkait Konflik dengan Iran

AlQuds, LiputanIslam.com –   Surat kabar Israel Maariv mengungkapkan bahwa ada kekhawatiran di…

Your one-stop resource for medical news and education.

Your one-stop resource for medical news and education.
Sign Up for Free

You Might Also Like

Pemikiran

Peran Filologi dalam Memahami Teks Filsafat Islam

By Rachel
Pemikiran

Sejarah Penyebaran Manuskrip di Dunia Islam

By Rachel
Pemikiran

Filologi Islam: Definisi dan Sejarah Perkembangannya

By Rachel
Pemikiran

Pentingnya Filologi Islam: Menyelami Warisan, Menegaskan Identitas (2)

By Rachel
Copyright © 2014 - 2024 — Liputan Islam. Situs Berita Dunia Islam. All Rights Reserved.
  • Home
  • Tentang Kami
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • Contact Us
Welcome Back!

Sign in to your account