Melihat Fenomena Ular Kobra Masuk Rumah

0
406

Sumber: Liputan6

LiputanIslam.com — Berdasarkan data World Health Organization (WHO), setiap tahun, sekitar 2,7 juta orang di dunia digigit ular berbisa. Diperkirakan, sebanyak 81 ribu hingga 138 ribu jiwa meninggal dunia dan 400 ribu orang mengalami cacat tubuh.

Di awal musim penghujan ini adalah waktu dimana telur ular menetas. Fenomena ditemukannya puluhan anak ular kobra di permukiman warga, mulai Bogor, Depok, Bekasi, Purwakarta, Jakarta Timur, Klaten, dan Yogyakarta memang meresahkan dan membuat was-was masyarakat.

Telur-telur tersebut, biasanya menetas tiga hingga empat bulan. Telur, diletakkan di lubang-lubang tanah atau di bawah serasah daun kering yang lembab. “Awal musim penghujan adalah waktu menetas. Fenomena ini wajar, dan merupakan siklus alami,” terang Amir Hamidy, Peneliti Reptil Pusat Penelitian Biologi LIPI.

Menurut Amir, hampir semua jenis ular, termasuk induk kobra pada periode tertentu, akan meninggalkan telur-telurnya, hingga menetas sendiri. “Begitu menetas, anakan kobra ini segera menyebar,” ujarnya.

Ular kobra atau yang kita kenal dengan nama ular sendok merupakan jenis berbisa dari suku Elapidae. Digelari ular sendok, karena ia dapat menegakkan dan memipihkan lehernya alias melengkung seperti sendok. Bentuk tersebut ditunjukkan bila ia terganggu, atau merasa terancam akan kehadiran musuh. Pastinya, kobra memiliki kemampuan meyemprotkan bisa [venom].

Kobra biasanya melumpuhkan mangsa dengan menggigit, lalu menyuntikkan bisa melalui taring. Bisa tersebut melumpuhkan saraf dan otot mangsa hanya dalam beberapa menit. Gigitannya mematikan dan dapat menyemburkan racun dengan tepat sejauh dua meter.

Di Indonesia, kasus gigitan ular berbisa masih tinggi. Bahkan, menempati urutan ke dua setelah HIV/AIDs dan kanker. Menurut World Health Organization (WHO), ada 5 juta kasus gigitan ular di dunia per tahun. Sekitar 2,7 juta digigit ular berbisa. Sebanyak 81.000-138.000 gigitan ular menyebabkan kematian, dan 400.000 kecacatan.

Menurut Aji Rachmat, dari Sioux Ular Indonesia (yayasan yang mendedikasikan pada edukasi dan penyelamatan ular), jika bertemu ular, cukup lakukan STOP (silent, thinkingobservation dan prepare). Jangan panik, atau malah memprovokasi.

Empat langkah itu dijabarkan sebagai bersikap mematung, sambil meneliti apakah berbisa atau tidak, memperhatikan lingkungan sekitar dan mencari alat bantu, serta mempersiapkan langkah lanjutan.

Baca juga: Dampak Karhutla, Indonesia Rugi Rp 72,95 Triliun

Pada Kamis, 23 Mei lalu, WHO mengumumkan langkah global mengurangi kasus gigitan ular yang selama ini dianggap neglected tropical desease (NTD), atau penyakit tropis yang terabaikan. Sehari berikutnya, kata Tri Maharani, Indonesia sebagai anggota WHO membuat resolusi serupa untuk Indonesia.

Menurutnya, obat tradisional tidak bisa mengeluarkan venom (bisa) di tubuh. Apalagi pakai batu hitam, keris, tidak bisa. Disilet, dihisap, atau diikat juga tidak bisa. Justru yang diikat sering kemudian harus diamputasi.

Menurut dia, WHO punya riset panjang sebelum akhirnya menemukan, venom tidak lewat pembuluh darah, tetapi melalui kelenjar getah bening. Jadi, dengan mengeluarkan darah dari luka gigitan atau mengikat dengan asumsi mencegah venom menyebar akan sia-sia.

“Caranya, lebih sederhana, yaitu dibuat tak bergerak. Otot yang bergerak hanya akan mempercepat reaksi. Dulu, efek gigitan ular dibuat empat grade. Kini, WHO hanya dua, yaitu fase lokal dan sistemik. Kalau fase lokal masih bisa diselamatkan dengan imobilisasi. Fase lokal itu tanda-tandanya bengkak di daerah gigitan, nyeri, dan pembengkakan kelenjar getah bening.”

“Kalau sudah sistemik, yaitu merusak organ, misal, gagal ginjal, gagal napas, gagal jantung, harus memakai antivenom.”

DISKUSI: