Kosmologi Teofani Ala Seyyed Hossein Nasr

0
132

Sumber: The Ismaili

LiputanIslam.com — Seyyed Hossein Nasr atau yang kerap disapa dengan Nasr merupakan pemikir Islam kontemporer yang lahir di Teheran Iran pada 7 April 1933. Ia pernah menuntut ilmu di barat dan menerima dua gelar yaitu: gelar B.Sc. dari Massachusetts Institute of Technology dan gelar M.A. serta Ph.D. dari Universitas Harvard di bawah bimbingan H.A.R. Gibb dengan disertasi berjudul “An Introduction to Islamic Cosmological Doctrine”.

Nasr banyak menuliskan tentang isu ekologi sebagai upaya untuk ikut serta memberikan solusi terhadap krisis ekologi yang makin kritis mendera planet ini melalui kaca mata epistemologinya bernama Scientia Sacra yang kemudian mengarahkannya pada pemikiran kosmologi baru yang peneliti namai dengan kosmologi teofani. Menurutnya, krisis ekologi berasal dari ketidakharmonisan elemen yang ada di alam semesta, yang disebabkan oleh manusia yang tidak bertanggung jawab. Manusia yang tidak bertanggung jawab adalah ciri dari manusia modern.

Bagi Nasr, manusia modern sudah melupakan dan memisahkan diri dari yang Transenden. Ia mengamati dunia barat dan dunia timur yang semakin kritis. Di dunia barat, krisis peradaban modern merupakan produk dari paradigma yang dikembangkan oleh para ilmuan barat sendiri yang telah menghilangkan nilai spiritualitas. Sedangkan di dunia timur, manusia cenderung menjadikan barat sebagai model yang harus diikuti tanpa mengambil pelajaran dan hikmah darinya.

Ada empat karakteristik dunia modern yang dituliskan Nasr, antara lain: pertama, manusia modern bersifat antroposentris yang berpusat pada manusia. Kedua, dunia modern tidak memiliki prinsip-prinsip yang abadi sehingga muncul relativisme dan reduksi terhadap apa yang dihasilkan. Ketiga, dunia modern kehilangan kepekaan terhadap sesuatu yang sakral akibat paham humanisme dan sekularisme. Keempat, dunia modern kehilangan aspek metafisika, sesuatu di balik aspek fisik-empiris.

Dampaknya, Alam hanya dipandang sebagai benda mati yang tidak memiliki makna dan nilai kecuali hanya nilai ekonomis semata. Alam dijadikan pelacur yang bisa dieksploitasi seenaknya tanpa rasa tanggung jawab, sehingga kondisi alam menjadi rusak dan tidak mungkin untuk dinikmati lebih lanjut. Sikap dominasi terhadap alam telah menyebabkan problem over populasi, kurangnya ruang bernafas, kemacetan lalu lintas kota, kelangkaan sumber daya alam, kehancuran keindahan alam, pencemaran lingkungan, peningkatan jenis penyakit fisik dan mental.

Epistemologi scientia sacra menghantarkan kepada penghormatan dan penghargaan terhadap alam atau kosmos dalam terminologi kosmologi teofani, penunjuk dan penyingkap pengetahuan tentang Tuhan. Alam dipandang sebagai makhluk yang menyingkap Tuhan dan Tuhan merupakan zat paling agung yang mengelilingi dan meliputi seluruh alam.

Alam bukan terlihat sebagai materi mekanik yang berdiri sendiri, namun terlihat sebagai teater yang di dalamnya tercermin aspek-aspek Ilahi, seperti beribu cermin yang merefleksikan wajah Tuhan. Memandang alam sebagai teofani berarti memandang alam sebagai tajalli Tuhan, sehingga diartikan bahwa Tuhan berada dimana-mana. Setiap unsur terkecil di alam adalah Tuhan karena Tuhan meliputi segala sesuatu yang ada di alam semesta ini. Maka dari itu, menghargai alam berarti pula menghargai Tuhan. (Ay/Diadopsi dari beberapa sumber)

DISKUSI:
SHARE THIS: