Hutan Gambut untuk Halau Tsunami

0
4889

LiputanIslam.com — Pada Desember 2004 lalu, tsunami pernah memporak-porandakan Aceh. Namun sebagian wilayah Kabupaten Nagan Raya selamat akibat bantuan dari Hutan gambut Rawa Tripa yang menghalau terjangan ombak tsunami. Menurut Kamaruddin, warga Nagan Raya, hutan gambut Rawa Tripa menyelamatkan kehidupan mereka. Jika tidak ada hutan gambut tersebut, mungkin kerusakan akibat tsunami di Nagan Raya akan lebih parah.

Selain Nagan Raya, Pulau Simeulue yang terletak paling dekat dengan pusat gempa dan tsunami tersebut pun memiliki tingkat kerusakan dan jumlah korban nyawa sangat sedikit dibandingkan daerah pesisir lainnya, seperti Banda Aceh dan Aceh Besar. Hal itu karena hutan gambut di daerah tersebut masih terjaga secara baik.

Memang, pepohonan hutan gambut (mangrove) mampu menghalau terjangan ombak tsunami ke daratan. Hutan gambut dapat menurunkan ketinggian air tsunami dan mereduksi kekuatannya. Peneliti Tsunami and Disaster Mitigation Research Center [TDMRC] Aceh dan Dosen Teknik Geologi Universitas Syiah Kuala, Ibnu Rusydy, pun mengakuinya.

Fakta-fakta di lapangan seperti banyak dilaporkan oleh banyak peneliti sesaat setelah tsunami melanda bahwa perkampungan yang berada di belakang hutan mangrove yang lebat selamat dari terjangan tsunami. Sebaliknya, kerusakan berat serta korban nyawa banyak terjadi pada perkampungan yang berhadapan langsung dengan laut atau hutan mangrovenya telah rusak atau hilang sebelum tsunami melanda.

Sayangnya, sebagian hutan gambut di Aceh mulai rusak akibat ekspansi perkebunan, khususnya sawit. Kerusakan terjadi di Kabupaten Aceh Jaya, Aceh Barat, Nagan Raya, Aceh Barat Daya, Aceh Selatan, Aceh Singkil dan Kota Subulussalam. Bahkan, hutan gambut Rawa Tripa pun telah berubah fungsi menjadi perkebunan sawit.

Rawa Tripa dikeringkan untuk dijadikan lahan perkebunan, tanahnya mulai turun. Berdasarkan penelitian, setiap tahun turun hingga lima sentimeter dan besar kemungkinan akan tenggelam karena lebih rendah dari laut.

Data analisis Geographic Information System [GIS] yang dibuat Yayasan Hutan Alam dan Lingkungan Aceh [HAkA] memperlihatkan tutupan hutan di Rawa Tripa berkurang setiap tahun.

Baca juga: Meninjau Kemajuan Energi Terbarukan di Indonesia

Tutupan hutan tersisanya pada Desember 2016 mencapai 6.200 hektar. Perhitungan ini berdasarkan SK Menhut No.190/Kpts-II/2001 tentang Pengesahan Batas KEL Daerah Istimewa Aceh.

Namun, Desember 2017, tutupan hutan Rawa Tripa tersisa menjadi 5.824 hektar atau berkurang 376 hektar. Hal yang terjadi pada Desember 2018, luas tutupannya sekitar 5.437 hektar.

Nasib serupa juga terjadi di hutan gambut Suaka Margasatwa Rawa Singkil yang berada di Kabupaten Aceh Selatan, Aceh Singkil, dan Kota Subulussalam. Berdasarkan surat Keputusan Nomor: 103/MenLHK-II/2015 tanggal 2 April 2015, luasnya mencapai 81.802,22 hektar.

Berdasarkan data HAkA pada 2016 deforestasi di Suaka Marga Satwa Rawa Singkil mencapai 219 hektar. Pada 2017 kerusakannya 520 hektar, di 2018 sebesar 126 hektar, sementara Januari-April 2019 sudah 17 hektar hutan yang rusak. (Ay/Mongabay)

DISKUSI: