Daur Ulang Sampah Plastik Jadi Eco Paving Block dan Pipa

0
655

LiputanIslam.com-Terdapat tiga sekawan yang berhasil mendaur ulang sampah menjadi barang berharga seperti paving block. Tiga sekawan tersebut terdiri dari Aziz Pusantaraka, Angga Nurdiansah, dan Daman Sutiawan yang telah meraih juara kedua dalam lomba ‘Gerakan Secangkir Semangat’. Dalam lomba tersebut, mereka membuat eco paving block berbahan dasar sampah kantong plastik. Mereka berhasil menyingkirkan 5.500 peserta.

Mereka menamai tim mereka cukup unik, yaitu ‘sumpah sampah’ karena mereka bersumpah untuk membuat sampah bukan sampah lagi, melainkan menjadi barang berguna.

“Kami bersumpah jadikan sampah bukan sampah lagi,” kata Azis.

Setelah menjuarai lomba dengan hadiah 100 juta. Kini mereka fokus pada pembuatan eco paving dan mesin untuk membuat eco paving block. Dari modal usaha yang ada, mereka gunakan untuk membuat mesin injection generasi kedua guna mencetak eco paving. Mesin generasi pertama hanya dapat menghasilkan 50-70 unit per hari atau di bawah nilai ekonomis, 250 unit.

Selain jualan eco paving, mereka juga terima order mesin produksi eco paving. Sebanyak satu paket mesin akan mereka jual, terdiri dari satu mesin pencacah sampah plastik, satu mesin injection, dan satu mesin extruder.

Awalnya, mereka risih dengan sampah kantong plastik yang dibuang ke sungai atau numpuk di belakang rumah warga di Cianjur, Jawa Barat. Bukan hanya menimbulkan bau tak sedap, sampah juga bertebaran dan menyumbat aliran air kala hujan hingga menimbulkan banjir.

Pertama kali, mereka mencari ide untuk menciptakan sesuatu dari sampah-sampah itu. Mereka pun meneliti sekitar enam sampai tujuh bulan. Mereka lakukan berbagai percobaan untuk menghasilkan sesuatu dari sampah kantong plastik.

Tahap awal, mereka bereksperimen membuat konblok dari lelehan pembakaran kantong plastik dicampur pasir. Dari ujicoba tersebut, membuat satu konblok berukuran satu meter persegi (m2) perlu sampah plastik sekitar 50 kg. “Konblok ini mempunyai kekuatan hampir dua kali lipat dibandingkan konblok biasa,” kata Azis seperti yang dilansir Mongabay.

Namun konblok tersebut mudah rusak kalau terkena air hujan hingga perlu kajian teknis lagi. Belum lagi, pembuatan ini menimbulkan bau menyengat dan asap hitam pekat yang bisa mengganggu kesehatan. Akhirnya mereka berpikir untuk membuat sesuatu yang lain yang lebih awet. Maka terpikirlah membuat eco paving block yang kemudian menjuarai lomba.

Baca juga: Lima Spesies yang Terimbas Polusi Plastik

Indonesia perlu pemuda-pemuda brilian yang mampu mendaur ulang sampah plastik agar gundukan sampah plastik di negara ini tidak kian kritis, apalagi di lautan Indonesia.

Masalah sampah plastik di laut sudah jadi masalah global. Setiap tahun, lautan di dunia harus menanggung beban sampah plastik sampai 12,7 juta ton. Indonesia menempati nomor dua dari daftar 20 negara paling banyak membuang sampah plastik ke laut.

Meski belum ada data valid secara global, beberapa hasil riset mengungkapkan 80% marine litter dari daratan, 80% marine litter adalah plastik. Sekitar 8,8 juta ton sampah plastik terbuang dan dibuang ke samudera setiap tahun.

Tahun 2025, diperkirakan bisa sampai 70,8 juta ton sampah plastik dengan perkiraan setiap orang menghasilkan 0,7 kilogram sampah per hari.

Selain tiga sekawan di atas, sebelumnya juga ada pemuda bernama Boy Candra yang mampu mendaur ulang sampah plastik nenjadi aneka pipa yang bermanfaat.

Boy tinggal di Dusun Bungsing, RT4, Desa Guwosari, Kecamatan Pajangan, Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Setiap hari ia memproduksi pipa dari vinyl chloride-red, salah satu dari tujuh jenis sampah plastik yang sulit didaur ulang.

Sampah plastik PVC dia peroleh dari Yogyakarta, Magelang, Solo, hingga Salatiga. Dia mulai usaha dengan mesin bekas. Dengan modal  sekitar Rp5-Rp10 juta, dia mencoba bikin pipa. Sedikit demi sedikit. Kini, pabriknya, sudah bisa bikin pipa berbagai ukuran, seperti 5/8 inch, 1/2 inch, 3/4 inch, 1 1/4 inch, 11/2 inch, 2 inch, 2 1/2 inch, 3 inch, dan 4 inch. Dalam sehari kini ia mampu memproduksi pipa hingga 2.000 batang.

Pada 2020 mendatang, Boy berencana memperluas usaha, tak hanya pipa, juga balok dan papan dari bahan dasar serupa. Upaya dia ini, katanya, sekaligus berkontribusi menjaga lingkungan karena bangunan kayu identik dengan penebangan pohon. (Ay/Mongabay)

DISKUSI: