Berkaca Pada Pandemi COVID-19 dan Flu Spanyol di Nusantara

0
52

Sumber: Republika

LiputanIslam.com — Pandemi global Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) yang sudah mencapai 55.092 kasus positif nasional pada tanggal 29 Juni pukul 12.00 WIB bukan kali pertama melanda nusantara. Sekitar 102 tahun lalu, negeri ini pernah dihantam pandemi influenza. Wabah itu dikenal dengan nama flu Spanyol (Influenza Ordonnantie).

Sudah 6 bulan berlalu, pandemi COVID-19 masih belum mengalami tren penurunan kasus, justru semakin bertambah. Meskipun demikian, Pemerintah mencanangkan new normal untuk masyarakat di tengah pandemi sembari menerapkan protokol kesehatan secara ketat.

Kepanikan pemerintah dan masyarakat dalam menangani flu Spanyol dahulu hampir sama dengan kondisi COVID-19 saat ini. Keterbatasan fasilitas kesehatan, pengetahuan, serta lambannya kebijakan merupakan salah satu faktor wabah yang terus meluas ke seluruh pelosok negeri.

Berdasarkan catatan Mongabay, Serupa dengan Coronavirus Disease 2019 (COVID-19), flu Spanyol diperkirakan berawal dari Tiongkok pada awal 1918, dan membunuh paling banyak orang di Spanyol. Namun menurut catatan Historia, asal-muasal virus ini masih menjadi perdebatan. Menurut Frank Macfarlane Burnet, virologis Australia yang mendedikasikan hidupnya untuk mempelajari influenza, pandemi 1918 bermula di Camp Funston dan Haskell County (Kansas) Amerika Serikat. Sementara menurut North China Daily News, seperti dikutip harian Pewarta Soerabaia, pandemi bermula di Swedia atau Rusia lalu menyebar ke Tiongkok, Jepang, dan Asia Tenggara.

Pada pertengahan 1918, flu Spanyol mulai masuk ke Nusantara, mulai dari Jakarta dan menyebar ke daerah-daerah lain. Pada 1919, pemerintah Hindia Belanda membuat peraturan mengenai upaya penanganan influenza. Salah satunya, mengenai peraturan karantina, direksi Koninklijk Paketvaart Maatschappij (KPM) memprotes. Hampir setahun, aturan itu kemudian disahkan akhir 1920. Berlaku pada 1 Januari 1921.

Obat-obatan yang tersedia masa itu hanya ada aspirin, pulvis doveri, dan aimphora. Obat-obatan ini dicetak ratusan ribu pil dan dibagikan ke masyarakat.

“Di samping obat-obatan medis, di Rembang, misal, di kalangan masyarakat beredar ramuan obat-obatan yang terbuat dari unsur-unsur tanaman. Temulawak salah satunya. Ramuan ini merupakan sarana untuk mencegah orang kedinginan dan memulihkan semangat fisik pasien flu. “Ini membuktikan, kedinginan dan tubuh lemah salah satu gejala influenza yang ditunjukkan setiap penderitanya,” tulis Prayitno dkk dalam “Yang Terlupakan Pandemi Ifluenza 1918 di Hindia Belanda”, seperti yang dikutip Mongabay.

Hanya dalam hitungan bulan, flu Spanyol telah membunuh jutaan orang. Flu Spanyol membunuh sekitar dua sampai 20 persen penderita yang terinfeksi. Persentase tersebut jauh lebih besar dibandingkan influenza biasa yang hanya mampu membunuh 0,1 persen dari total penderita. Dahsyatnya serangan wabah ini membuat virologis Amerika Serikat Jeffery Taubenberger menyebut Flu Spanyol sebagai “The Mother of All Pandemics.”

Di Nusantara sendiri, korban Flu Spanyol mencapai 1,5 juta jiwa. Hingga pada Desember 1920, Flu Spanyol berhasil dihentikan berkat adanya herd immunity dari pasien yang berhasil sembuh. Lalu bagaimana dengan pandemi COVID-19 saat ini? Jika belum ditemukan vaksin yang tepat untuk membunuh virus, maka setidaknya herd immunity lah yang bisa dijadikan pacuan seperti halnya Flu Spanyol.

Selain itu, menurut Imperial College COVID-19 Response Team, cara intervensi nonfarmasi pernah diterapkan dalam mengatasi pandemi flu Spanyol. Cara tersebut pun dapat diterapkan dalam mengatasi pandemi COVID-19 saat ini. Cara tersebut memiliki peran potensial dalam mengurangi penyebaran virus.

Intervensi nonfarmasi bisa dilakukan dengan isolasi diri dan karantina secara sukarela di rumah, pembatasan sosial dengan orang lain, serta menutup sekolah, gereja, bar, dan tempat publik lainnya.

Imperial College COVID-19 Response Team menyampaikan, ada dua strategi dalam melaksanakan intervensi nonfarmasi. Yang pertama adalah mitigasi, yakni berfokus pada ‘pelambatan’ penyebaran epidemi–mengurangi kesibukan petugas medis saat merawat pasien yang sudah terinfeksi virus corona.

Yang kedua merupakan supresi, yaitu bertujuan untuk mengubah arah langkah wabah, mengurangi kasus hingga serendah-rendahnya, dan mempertahankan situasi tersebut sampai pandemi selesai. (Ay/Mongabay/Historia/Today Line/National Geografi)

DISKUSI:
SHARE THIS: