Sikapi Pembakaran Bendera, Pagar Nusa NU Ingatkan Persatuan

0
54

Sumber: ayosemarang.com

Jakarta, Liputanislam.com– Organisasi Pencak Silat Pagar Nusa Nahdlatul Ulama (NU) menanggapi atas adanya pembakaran bendera PDIP yang dilakukan oleh sekelompok orang pada saat menggelar aksi demonstasi terhadap RUU Haluan Ideologi Pancasila (HIP) pada beberapa waktu lalu. Ketua Umum PP Pagar Nusa, M  Nabiel Haroen mengingatkan semua pihak agar jangan sampai terjebak pada kelompok tertentu yang ingin memecah belah persatuan dan kesatuan kita sebagai bangsa.

“Jangan sampai ada kelompok yang berupaya memecah belah bangsa dan mengadu domba umat Islam dengan kelompok nasionalis,” ucapnya di Jakarta pada Selasa (30/6).

Menurut Nabiel, kelompok atau orang yang melakukan pembakaran bendera itu adalah provokator, memancing kemarahan orang lain. Karena itu, aparat penegak hukum harus mengusut tuntas kasus ini dan memproses hukum pelakunya.

“Bendera itu simbol kehormatan dan jati diri. Aparat kepolisian harus berani menangkap para provokator tersebut,” ujarnya.

Ia mengatakan bahwa Nahdiyin (warga NU) dan kelompok Soekarnois itu saudara dan sama-sama berjuang mendirikan Republik Indonesia. “Bung Karno juga mendapat pengukuhan dari NU sebagai waliyyul amri ad-dharuri bis-syaukah, yakni pemimpin negara pada masa transisi yang punya legitimasi untuk memimpin bangsa,” katanya.

Tidak hanya itu, lanjut Nabiel, tanpa dukungan Bung Karno, tidak akan ditemukan makam Imam Buchori di kawasan Uzbekistan, yang saat itu berada di wilayah Soviet yang dipimpin Nikita Krushchev. “Bung Karno juga banyak membantu kemerdekaan bangsa Islam, seperti Aljazair, Palestina, dan pembela kemerdekaan Pakistan,” terangnya.

“Jadi, jangan sampai ada yang memutarbalikkan sejarah. Kalau mereka terus memecah belah bangsa, mereka melawan demokrasi dan konsensus kebangsaan, harus ada tindakan tegas melawan itu,” tegasnya.

Baca: Bendera PDIP Dibakar, Megawati Keluarkan Surat Perintah Harian

Nabiel juga mengingatkan segenap anak bangsa agar berhati-hati dengan kelompok transnasional, seperti HTI yang ingin mengganti Pancasila dengan paham khilafah. Terlebih kelompok transnasional itu biasanya menggunakan baju agama untuk mencapai kepentingannya.

“Jangan sampai mengimpor konflik Timur Tengah ke Indonesia. Ada sekelompok orang yang meniru cara-cara divide et impera. Jadi, yang harus kita lawan intrik politik dari HTI. Waspadai partai dan kelompok tertentu yang menggunakan narasi, simbol, dan manuver intrik politik dari HTI,” tandasnya. (ar/republika/demokrasi).

 

DISKUSI:
SHARE THIS: