Pro-Kontra Pemotongan 5 Hari Cuti Bersama 2021

0
292

sumber: kumparan

Jakarta, LiputanIslam.com—Pemerintah baru-baru ini mengurangi cuti bersama tahun 2021 sebanyak lima hari. Kebijakan ini menuai argumen pro dan kontra terkait penanganan virus Covid-19 dan juga hak pekerja. Apa saja argumen tersebut?

Pro

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan ( Menko PMK) Muhadjir Effendy mengatakan, alasan pengurangan libur cuti bersama tahun 2021 adalah untuk mengurasi angka infeksi Covid-19 di Tanah Air.

“Pemerintah meninjau kembali cuti bersama yang dapat mendorong terjadinya arus pergerakan orang,” kata Muhadjir usai Rapat Koordinasi Tingkat Menteri Peninjauan Surat Keputusan Bersama (SKB) Cuti Bersama tahun 2021, Senin (22/2/2021).

Menurut Muhadjir seperti dikutip dari Kompas, sehabis libur panjang, selalu ada kecenderungan kasus Covid-19 mengalami peningkatan. Selain itu, mobilitas masyarakat cenderung naik sedangkan program vaksinasi masih berjalan.

“Pertimbangan mengapa masih diberikan satu hari menjelang Hari Raya Idul Fitri dan satu hari menjelang Natal, agar memudahkan Polri dalam mengelola pergerakan masyarakat,” kata dia. “Jangan sampai terjadi penumpukan pada satu hari dan justru akan berbahaya,” lanjut Muhadjir.

Kontra

Epidemiolog dan peneliti pandemi dari Griffith University Dicky Budiman Dicky memberikan kritik bahwa pemangkasan cuti bersama ini akan sia-sia jika tetap ada diskon wisata

“Satu hal yang dicatat dari kebijakan [pemangkasan libur] sebelumnya: saat itu libur memang dipangkas, tapi diskon penerbangan, kereta, dan tempat wisata tetap ada. 5M-nya tidak dilakukan, mobilisasinya enggak ditekan sehingga orang tetap mudik walaupun dalam waktu singkat. Penempatan liburnya juga memungkinkan penduduk mengambil cuti [mandiri], sebab kesadaran masyarakat juga rendah. Ini PR-nya, kebijakan ini harus disertai dengan membangun kewaspadaan, membangun kesadaran publik dengan regulasi yang mendukung,” kata Dicky seperti dikutip dari Vice.

Selain itu, sejumlah netizen berpendapat pengurangan cuti bersama ini telah melanggar hak pekerja untuk menikmati libur.

Salah satunya, akun Twitter @vanirveriani mencuit pada 24 Februari 2021: “Tipes, demam berdarah, hepatitis, apalagi ya Pak Bu? yang biasa dirasakan para pekerja karena tidak mendapatkan jam libur yang layak alias “dipaksa” bekerja terussss di masa pandemi…”

Cuitan lain diungkapkan oleh akun @hayrayi: “Kita buruh buruh paling rendah kastanya ini tetep masuk, yang atas atas liburan. Yang bikin kerumunan yang punya jabatan, punya duit, punya akses buat liburan. Tapi cuma pekerja kasta bawah yang kena dampak hak liburnya dihilangkan,target dinaikkan, bunuh perlahan ya bun? :(((“

Cuti bersama yang dipangkas yakni cuti dalam rangka Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW pada 12 Maret, Hari Raya Idul Fitri 1442 Hijriah pada 17-19 Mei, dan Hari Raya Natal 2021 pada 27 Desember.

Adapun cuti bersama 2 hari yang tetap dipertahankan pemerintah adalah jelang Hari Raya Idul Fitri 1442 Hijriah pada 12 Mei dan jelang Hari Raya Natal 2021 pada 24 Desember.

DISKUSI: