PBNU: Sebaiknya Salat Jumat Tetap Dilaksanakan Satu Waktu

0
114

Sumber: detik.com

Jakarta, Liputanislam.com– Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (Wasekjen PBNU), KH Masduki Baidlowi mengatakan bahwa pelaksanaan salat Jumat sebaiknya tetap dilaksanakan dalam satu waktu, tanpa gelombang. Hal itu disampaikan Kiai Masduki menanggapi akan diterapkannya keadaan new normal dan kemungkinan beberapa masjid akan melaksanakan salat Jumat secara bergelombang sebagai protokol kesehatan di masa wabah.

“Memang kalau MUI DKI membolehkan begitu, tapi sebaiknya menurut kami PBNU, lebih baik dilakukan secara bersamaan jika memang masih memungkinkan secara tempat. Jadi walaupun ada pendemi seperti ini kami sarankan untuk melakukan salat Jumat di waktu yang bersamaan,” ucapnya di Jakarta pada Rabu (3/6).

Menurutnya, salat Jumat dapat dilakukan dalam satu waktu dan tetap menjaga protokol kesehatan. Keterbatasan daya tampung masjid dapat diatasi dengan cara memanfaatkan tempat lain. “masih terdapat tempat lain yang dapat dimanfaatkan, maka salat Jumat lebih baik dilaksanakan dalam satu waktu, meski dilakukan di tempat yang berbeda,” katanya.

Misalnya suatu masjid yang asal mulanya bisa menampung 100 orang, tapi karena adanya social distancing jadi hanya mampu menampung 50 orang saja, lantas 50 orang sisanya dapat mencari tempat lain, di lapangan misalnya, untuk melaksanakan salat Jumat di saat itu juga (waktu yang sama).

Berbeda dengan ditempat industri, lanjut Kiai Masduki, yang tidak bisa dilaksanakan secara bersamaan maka bisa dilakukan secara bergelombang, atau di daerah minoritas Muslim dimana tempat untuk beribadah sangat terbatas, maka bisa dilakukan secara bergelombang. Jadi tingkat kedaruratannya itu sangat kontekstual.

Sejalan dengan itu, Fatwa MUI Pusat Nomor 5/MUNAS VI/MUI/2000 tentang Pelaksanaan Salat Jumat Dua Gelombang menimbang pelaksanaan Salat Jumat dua gelombang atau lebih dari satu kali boleh dilakukan di industri yang sistem operasionalnya bersifat nonstop 24 jam. Muslim yang bekerja di industri tersebut tidak dapat melaksanakan salat Jumat, kecuali jika dilakukan dengan dua gelombang.

Kiai Masduki juga tetap mengingatkan fatwa lain MUI  nomor 14 tahun 2020 tentang penyelenggaraan ibadah di tengah wabah Covid-19 pada 16 Maret 2020. Dimana salat Jumat dapat diganti dengan salat Dzuhur di tempat kediaman, karena salat Jumat merupakan ibadah wajib yang melibatkan banyak orang, sehingga berpeluang terjadinya penularan virus secara massal.

Baca: Jokowi: Rencana Masjid Istiqlal Dibuka Bulan Juli

“Dan sebenarnya kalau posisinya masih zona merah, maka masih berlaku fatwa yang membolehkan untuk tidak salat Jumat dulu karena tingkat bahayanya masih tinggi,” tandasnya. (aw/republika).

 

DISKUSI:
SHARE THIS: