MUI Minta Lembaga Sensor Lebih Selektif Loloskan Film

0
110

Sumber: twitter.com @lsf_ri

Jakarta, Liputanislam.com– Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI), Anwar Abbas meminta Lembaga Sensor Film (LSF) agar lebih selektif lagi dalam meloloskan film yang akan beredar di masyarakat. Menurutnya, film-film yang kurang memberikan manfaat dan berpotensi merusak karakter serta mental anak jangan diloloskan.

Demikian hal itu disampaikan Anwar di Jakarta pada Selasa (10/3) menanggapi kasus pembunuhan yang dilakukan seorang remaja berinisial NF (15) terhadap belita di Sawah Besar, Jakarta, yang terjadi beberapa hari lalu. Pembunuhan yang dilakukan NF itu diakuinya karena efek nonton film.

“Itu salah satu tugas Lembaga Sensor Film untuk menilai film-film yang beredar, apakah film yang akan diloloskan itu baik atau tidak, bernilai edukasi atau tidak. Kalau merusak kepribadian anak atau merusak akhlak anak bangsa, menurut saya, jangan diloloskan,” tegasnya.

Anwar mengingatkan kepada para pengusaha perfilman agar tidak selalu mengedepankan kepentingan bisnis dalam membuat film. Sebab, dampak yang dimunculkan film yang tidak baik bisa sangat mengerikan, seperti kasus pembunuhan oleh remaja NF tersebut.

“Karena yang namanya pengusaha dia kan orientasinya mencari uang. Jadi, jangan kepentingan mencari uang, lalu akhlak dan moral itu dikorbankan. Terlalu besarlah ongkosnya bagi pertumbuhan bangsa kita,” ujarnya.

Sebelumnya, pada Kamis (5/3) terkuak kasus pembunuhan yang dilakukan remaja NF kepada seorang belita berusia lima tahun di Sawah Besar. NF mengaku tidak memiliki motif apa pun dalam membunuh bocah tersebut. Dirinya terpengaruh film horor Chucky dan Slender Man yang kerap ditontonnya.

Baca: Menkopolhukam Mahfud MD Sebut Pendana Terorisme Adalah Teroris

Hal itu dibenarkan Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Yusri Yunus yang menyebutkan bahwa NF melakukan pembunuhan karena terdorong tontonan film horor dan  kekerasan. “Si pelaku ini suka menonton film horor. Bahkan, salah satunya film Chucky yang menjadi hobinya,” terangnya. (aw/kompas/republika).

DISKUSI: