Menakar Persaingan Dua Kubu Calon Ketua Umum PBNU 

0
557

Jakarta, LiputanIslam.com– Nahdlatul Ulama akan menggelar Muktamar ke-34 untuk menentukan posisi ketua umum. Menurut Adi Prayitno, pengamat politik dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, persaingan calon ketum PBNU akan mengerucut pada dua kubu besar, yaitu kubu Yahya dan Said Aqil. 

Sebelumnya, Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj telah menyatakan akan mencalonkan diri kembali karena merasa sudah ada banyak dukungan. 

Sementara Katib Aam PBNU Yahya Cholil Staquf juga mengumumkan keikutsertaannya dalam pemilihan caketum.  Ia diketahui telah banyak berdialog dengan para pengurus NU di daerah sejak September 2021 untuk menawarkan gagasannya sebagai calon ketua umum. 

Dalam survei Institute for Democracy and Strategic Affairs (IndoStrategic), nama Said Aqil dan Yahya muncul sebagai calon kuat ketum PBNU. 

Selain mereka, beberapa nama lain yang muncul yaitu tokoh kiai dari Jawa Barat, tokoh Kiai Jawa Timur, seperti Marzuki Mustamar dan Mutawakil Alallah, dan juga kiai muda asal Jawa Tengah, Gus Baha dan Yahya Staquf. 

Pengamat politik Adi Prayitno melihat indikasi akan adanya dua kubu besar dalam memperebutkan jabatan ketum. Menurutnya, Yahya dapat menjadi penantang kuat Said Aqil lantaran sosoknya yang mewakili para pendukung Presiden keempat Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. “Apalagi Gus Yahya mantan jubir Gus Dur. Trah politiknya mirip Gus Dur dan relatif membawa NU menjauh dari urusan politik,” ujar Adi.

Said Aqil sebagai inkumben, kata Adi, menjadi faktor yang menguntungkan karena dapat meraih dukungan dari pengurus-pengurus yang memiliki suara. Namun, kehadiran Yahya sebagai penantang pun tak bisa dianggap remeh. 

Koordinator Jaringan Muslim Madani (JMM) Syukron Jamal mengatakan, dinamika dan konstelasi jelang Muktamar harus tetap menjaga dan mengedepankan marwah NU dan para kiai atau ulama di dalamnya. Ia berharap konstelasi yang terjadi lebih mengedepankan pada pertarungan ide dan gagasan, visi misi membawa NU semakin berperan baik di nasional maupun global sekaligus pada sisi lain menjawab berbagai tantangan keumatan. (ra/tempo)

DISKUSI: