Krisis Ukraina, Tantangan dan Peluang bagi Ekonomi Indonesia

0
2466

LiputanIslam.com –Krisis Ukraina yang ditandai dengan adanya operasi militer Rusia sejak Kamis (24/2/2022) lalu memberikan sejumlah dampak bagi perekonomian dunia, dan dampak tersebut ikut memengaruhi perekonomian Indonesia. Dampak tersebut bisa negatif, tapi bisa juga memiliki sisi positifnya. Demikian pernyataan sejumlah pakar ekonomi nasional sebagaimana yang dirangkum oleh LiputanIslam dari berbagai sumber.

Dampak Negatif Kenaikan Harga Minyak

Salah satu dampak ekonomi paling nyata dan merupakan reaksi langsung dari krisis Ukraina adalah melambungnya harga minyak dunia. Harga minyak mentah jenis Brent dilaporkan mencetak rekor baru sejak 2014, tembus ke level US$ 105 per barel pada hari ketika operasi militer dilancarkan Rusia. Intensitas perang yang masih terus memanas memicu harga minyak mentah berada di level sangat tinggi, mengingat Rusia adalah pemasok 10% kebutuhan minyak dunia, sehingga produksinya amat menentukan keseimbangan pasokan dan permintaan minyak global.

Dilansir oleh CNBC, Anggota Dewan Energi Nasional (DEN), Satya Widya Yudha menjelaskan bahwa akibat dari defisitnya produksi minyak dan gas di dalam negeri, kenaikan harga minyak dunia tersebut akan memukul keuangan negara. Untuk itu, Satya berharap bahwa kenaikan harga minyak ini tidak berlanjut tinggi, karena akan memengaruhi ketahanan energi nasional.

Data menunjukkan bahwa Indonesia, sejak 2004 sampai saat, ini masih bergantung kepada impor BBM dan minyak mentah dalam rangka memenuhi kebutuhan dalam negeri. Dari konsumsi BBM nasional yang berada di kisaran 1,4 juta hingga 1,5 juta barel per hari, kemampuan produksi minyak Indonesia hanya mampu mencapai 700 ribu barel per hari, atau setengahnya dari kebutuhan tersebut.

Di sisi lain, seperti yang disampaikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), cadangan BBM untuk meng-cover kebutuhan dalam negeri hanya bertahan untuk 21 hari. Meskipun demikian, Dirjen Minyak dan Gas Kementerian ESDM, Tutuka Ariadji meminta agar masyarakat tidak khawatir, karena PT Pertamina saat ini, diklaim mempunyai fleksibilitas yang tinggi dalam mengimpor dari banyak negara untuk kebutuhan BBM.

Kalangan dunia usaha juga mengkhawatirkan akibat krisis minyak ini terhadap dunia usaha Indonesia. Jika pasokan minyak tersendat akibat perang Rusia-Ukraina, kenaikan akan terjadi gekolak harga pada berbagai komoditas ekonomi di Indonesia.

Peluang Ekonomi

Sebagian ekonom melihat bahwa ada bidang ekonomi yang bisa dimanfaatkan akibat krisis Ukraina tersebut. Mereka melihat bahwa Indonesia bisa memperoleh keuntungan dari konflik yang tengah berkecamuk itu. Naiknya harga emas, perak, aluminium, dan nikel imbas konflik Rusia dan Ukraina dapat dioptimalkan oleh Indonesia sebagai negara penghasil berbagai komoditas tersebut. Hal itu disampaikan oleh dosen Paramadina Graduate School of Diplomacy, Mahmud Syaltout melalui Twitter Space Forum Didik J Rachbini bertajuk Dampak Perang Rusia-Ukraina: Ekonomi dan Politik Global, Sabtu (26/2/2022).

“Jika kita bisa mengoptimalkan peluang ini, ekonomi kita bukan hanya selamat dari ancaman defisit karena dampak naiknya harga migas, tapi juga bisa untung besar,” ujar Syaltout. Seperti dilansir oleh beritasatu.com, Syaltout mengatakan bahwa untuk bisa memaksimalkan peluang untung tersebut, Indonesia perlu memiliki strategi jitu, yang terkait dengan pertambangan baik hulu maupun hilirnya, pembangunan smelter, dan lainnya.

Pada bagian lain keterangannya, Syaltout juga mengingatkan dampak negatif krisis Ukraina itu bagi ekonomi Indonesia terutama yang dihubungkan dengan melambungnya harga minyak dunia. Syaltout mengingatkan, jika masalah tersebut tidak disiasati dengan baik, naiknya harga minyak dan gas bumi berpotensi semakin membebani APBN Indonesia. (os/li/cnbc/beritasatu)

 

DISKUSI: