Ekonomi Terkontraksi 5,32 Persen, Stafsus: Indonesia Belum Resesi

0
142

Sumber: ekonomi.bisnis.com

Jakarta, LiputanIslam.com— Staf Khusus Presiden Joko Widodo bidang ekonomi Arif Budimanta menegaskan Indonesia belum mengalami resesi meskipun pertumbuhan ekonomi pada kuartal II 2020 minus 5,32 persen.

Arif menjelaskan, resesi terjadi apabila ekonomi suatu negara tumbuh negatif selama 2 kuartal berturut-turut. Artinya, jika ekonomi RI pada kuartal III 2020 berhasil tumbuh positif, ancaman resesi bisa dihindari.

“Itu belum bisa disebut mengalami resesi. Konsensus semua ekonomi di seluruh dunia menyatakan resesi adalah pertumbuhan negatif perekonomian berturut-turut selama 2 kuartal dihitung secara tahunan atau year on year. Indonesia masih bisa menghindari resesi jika pertumbuhan ekonomi kita pada kuartal III ini secara tahunan dapat mencapai nilai positif,” jelas Arif, Senin (10/8).

Baca: Ekonomi Minus 5,32 Persen, Ini Kata Presiden Jokowi

Dia mengatakan, kontraksi ekonomi pada kuartal II ini sudah diprediksi sebelumnya seiring adanya pembatasan sosial berskala besar (PSBB) akibat pandemi Covid-19.

Selain itu, kontraksi ekonomi juga terjadi hampir di seluruh negara dengan nilai yang lebih tinggi dari Indonesia. Misalnya, Uni Eropa tercatat minus 14,4 persen, Singapura minus 12,6 persen, Amerika Serikat minus 9,5 persen, Malaysia minus 8,4 persen.

“Artinya kondisi kita relatif lebih baik dibandingkan dengan beberapa negara tersebut karena sejak awal presiden memberikan arahan untuk melakukan program dan fasilitas yang sifatnya counter cyclical untuk mendorong ekonomi domestik, khususnya konsumsi masyarakat sehingga tidak membuat ekonomi kita terkontraksi lebih dalam lagi,” ujarnya. (sh/market.bisnis/kompas)

 

 

 

 

 

 

 

DISKUSI: