Diprediksi Tenggelam Pada 2050, Warga Jakarta Masih Gunakan Air Tanah

0
84

Sumber: Okezone

Jakarta, LiputanIslam.com — Peneliti sudah memprediksi Jakarta akan tenggelam pada 2050 akibat penurunan muka tanah (landsubsidence) karena penggunaan air tanah sebagai salah satu faktornya. Namun warga Provinsi DKI Jakarta masih mengandalkan air dari tanah sebagai sumber air bersih untuk keperluan sehari- hari dan belum beralih ke air yang berasal dari saluran perpipaan.

Kepala Dinas Cipta Karya, Tata Ruang dan Pertanahan (Citata) DKI Jakarta Heru Hermawanto saat dihubungi, Jumat (17/1) mengemukakan, pengadaan air dari saluran perpipaan belum menjangkau seluruh kawasan di Jakarta sehingga ketergantungan pada air tanah pun masih dilakukan oleh masyarakat.

Air dari saluran perpipaan seharusnya dapat perlahan-lahan ditingkatkan untuk penggunaan masyarakat Jakarta karena lambat laun penurunan muka tanah di Jakarta terus berlangsung.

Hal itu akibat pola penggunaan air tanah besar-besaran yang menjadi salah satu faktor Jakarta diprediksikan tenggelam di tahun 2050.

Saat ini, menurut Heru, layanan air perpipaan baru dirasakan oleh 40-60 persen penduduk baik di pemukiman maupun gedung-gedung bertingkat seperti pusat perbelanjaan dan kantor.

“Sekarang layanan air pipa yang tersedia sekitar 40 sampai 60 persen. Masyarakat ya tetap masih bergantung air tanah,” katanya.

“Contoh deketnya sekitar kita  permukiman pasti pada pakai air tanah kan? Apalagi gedung- gedung pemukiman yang tinggi,” kata dia.

Selaras dengan Dinas Citata DKI, Dinas Sumber Daya Air DKI Jakarta pun membenarkan penggunaan air tanah masih tinggi di Jakarta.

“Ya masih banyak yang pakai air tanah, namun yang jelas kami akan mengupayakan penggunaan air tanah perlahan-lahan dikurangi dan masyarakat menggunakan air pipa,” kata Sekretaris SDA DKI Dudi Gardesi.

Baca juga: Akibat Banjir, 32 Titik Jalan di Jakarta Rusak

Sementara, data GPS (Global Positioning System) hasil penelitian dengan ITB menunjukkan `subsidence rate` (tanah ambles) bisa sampai 25 cm per tahun.

Berdasarkan data GPS tersebut, ia mengatakan ambleas tanah tercepat antara 20 hingga 25 cm per tahun terjadi di sekitar Senayan, Gedung DPR di kawasan Jalan Gatot Subroto, Joglo.

Lokasi lain yang juga mengalami ambles tanah lima hingga 15 cm per tahun terjadi di Pasar Minggu, Duren Sawit, Cakung, Tambun. Sedangkan tanah di sekitar Kamal, Marunda, Sunter, Jagakarsa stabil selama penelitian berlangsung.

Sementara itu berdasarkan hasil penelitian bersama dengan ITB tahun 2000 hingga 2005, ia mengatakan total penurunan ketinggian tanah terparah terjadi di daerah sekitar Daan Mogot yang mencapai hingga 70 cm.

Dalam kurun waktu yang sama Kalideres mengalami ambles hingga 40 cm, Ancol ambles lebih dari 30 cm, Kelapa Gading sekitar 30 cm. Sedangkan Jatinegara Timur, Kamal Muara, dan Cilincing ambles lebih dari 20 cm. (Ay/Antara)

DISKUSI: