Dampak Karhutla, Indonesia Rugi Rp 72,95 Triliun

0
184

Sumber: CNN Indonesia

LiputanIslam.com — Bank Dunia melaporkan bahwa kerugian Indonesia dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sepanjang 2019 mencapai US$5,2 miliar atau setara Rp72,95 Triliun (kurs Rp 14.000). Laporan tersebut dirilis dalam Indonesia Economic Quarterly Reports (IEQ). Angka ini setara dengan 0,5% dari Produk Domestik Bruto Indonesia.

“Kerusakan dan kerugian ekonomi terjadi di delapan provinsi di sepanjang Juni-Oktober 2019 diperkirakan mencapai US$5,2 miliar atau 0,5% dari GDP Indonesia,” kata Frederico Gil Sander, Lead Economist World Bank Indonesia.

Penghitungan kerugian ekonomi oleh Bank Dunia tersebut berdasarkan kebakaran hutan massif yang terjadi di delapan provinsi prioritas, yakni, Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, Riau, Kalaimantan Barat, Jambi, Kalimantan Timur dan Papua. Dan penghitungan tersebut dalam kurun waktu Januari-September 2019 dengan luasan 620.201 hektar. Luasan ini naik dua kali lipat lebih besar dibandingkan rata-rata kebakaran hutan sepanjang 2016-2018.

Selain ekonomi negara, karhutla juga berdampak pada kesehatan masyarakat. Berdasarkan laporan, sampai September 2019, lebih 900.000 orang mengalami gangguan pernapasan.

kemudian karhutla juga berdampak pada terhentinya proses belajar mengajar di sekolah dan terhentinya operasi bandar udara nasional. Ratusan sekolah harus menghentikan proses belajar mengajarnya akibat asap karhutla dan 12 bandara tak bisa beroperasi normal.

Sebetulnya bukan hanya Indonesia yang mengalami kerugian dari karhutla, tetapi negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura pun ikut terdampak.

Di Malaysia, lebih dari 409 sekolah ditutup akibat asap karhutla dari Indonesia. Negara jiran tersebut membagikan setengah juta masker untuk warganya.

Baca juga: Kerusakan Hutan di Seluruh Dunia Telah Memperparah Dampak Iklim

Imbas paling parah adalah kualitas udara yang memburuk. Menurut Airvisual, wilayah di Kuching, Sarawak, Malaysia memiliki angka 231 dengan PM2.5 dan kualitas udara 180.8. Artinya, kualitas udara di Kuching sangat tidak sehat.

Sedangkan di Singapura, kualitas udara sedikit memburuk dibandingkan Malaysia. Menurut Airvisual, udara di Singapura memiliki angka 103 dengan PM2.5 dan kualitas 36.5. Artinya udara sedikit tidak sehat.

Kebakaran hutan dan lahan di Indonesia adalah perbuatan manusia dan perusahaan yang telah melanggar hak asasi gambut dengan cara pengeringan dan pembakaran.

Menurut Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Doni Monardo, kunci menangani masalah ini dengan pencegahan. Karhutla akan terus berlangsung kalau berbagai pihak kurang memberikan perhatian. Persoalan karhutla ini, katanya, tidak bisa hanya bergantung pada pemerintah, juga kepedulian banyak pihak. (Ay/Antara/Merdeka/CNN)

 

DISKUSI: