Pengamat Singgung Masalah Kerusakan Mesin Terkait Jatuhnya Sriwijaya Air

0
191

sumber: Indeks News

Jakarta, LiputanIslam.com–Pesawat Sriwijaya Air rute Jakarta-Pontianak dengan nomor penerbangan SJ 182 jatuh di sekitar Kepulauan Seribu pada Sabtu (9/1/2021) sore WIB. Peristiwa naas ini telah menewaskan 62 penumpangnya, termasuk 12 kru pesawat.

Faktor penyebab kecelakaan ini belum diketahui karena masih berada dalam proses investigasi. Namun, sejumlah pengamat transportasi dan penerbangan telah memberikan sejumlah analisis terkait penyebab jatuhnya pesawat Boeing 737-500 berusia 26 tahun itu. Salah satu analisis tersebut adalah terkait kerusakan mesin pesawat setelah lama ‘nganggur’ di masa pandemi.

Akibat pandemi COVID-19, banyak perusahaan maskapai di dunia memarkir pesawatnya yang ‘nganggur’ lantaran sepinya penumpang. Demikian pula dengan Sriwijaya Air. Menurut pengamat penerbangan Gerry Soejatman, jumlah pesawat milik Sriwijaya Air yang terparkir selama pandemi “tidak sedikit, tapi tidak mayoritas”.

Pengamat penerbangan Ruth Hana Simatupang mengatakan kepada BBC (11/1) bahwa dampak yang muncul akibat terlalu lama memarkir pesawat adalah korosi mesin.

Mengutip CNBC (10/1), Federation Aviation Administration (FAA) pada Juli 2020 telah mewanti-wanti 2.000 pesawat Boeing 737 New Generation dan Classic yang diparkir terkait resiko mati mesin di udara.

Jenis pesawat Classic seri 300 – 500 ternyata banyak dipakai oleh maskapai Indonesia, salah satunya Boeing 737-500 milik Sriwijaya Air.

FAA memperingatkan bahwa mesin pesawat CFM56 Boeing 7373 NG atau Classic berpotensi mengalami karat di komponen air check valve. Peringatan ini disampaikan karena FAA telah mencatat empat laporan mati mesin pada Boeing 737 karena komponen air check valve tersangkut dalam kondisi terbuka akibat karat.

Akan tetapi, Ruth Hana menilai pesawat SJ182 seharusnya tidak mengalami korosi mesin karena pesawat itu telah terbang beberapa kali sebelum kecelakaan pada Sabtu (9/1). Meskipun begitu, ia tidak menutup kemungkinan memang terjadi terjadi kerusakan.

Jika memang terjadi kerusakan, maka mungkin saja ada yang luput dari inspeksi Kementerian Perhubungan. Sebab, pesawat hanya bisa terbang jika sudah lolos inspeksi dari Kemenhub.

Selain Kemenhub, pengamat penerbangan Gerry Soejatman menduga ada persoalan pemeliharaan pesawat yang membelit Sriwijaya Air.

Seperti dilansir oleh BBC News Indonesia (10/01), maskapai tersebut terjerat utang hingga Rp800 miliar kepada Garuda Maintenance Facility (GMF) Aero Asia, perusahaan penyedia layanan perawatan pesawat anak usaha Garuda Indonesia.

Menurut Gerry, karena sudah tak dilayani GMF, Sriwijaya merawat armadanya dengan teknisi sendiri dan ketersediaan suku cadang mesin yang terbatas. Karena itulah, kondisi perusahaan ini berada di level Hazard Identification and Risk Assessment (HIRA) 4A. (ra/BBC/CNBC)

DISKUSI: